Senin, 30 Maret 2015

KUSERTAKAN BAHUKU

Kusertakan bahuku dengan ketulusan...
Agar ketabahannya mampu menahan berat beban...
Tempat ia menyandarkan segala cemas dengan ikhlas...

Sesering aku yang mencemburui sajadah malammu...
Ia yang kau jadikan tempat berkeluh kesah dari segala penat gelisahmu...
Diantara sujud paling sunyi pada sepertiganya...
Jika malam setia memeluk gelisahmu...
Aku ingin senantiasa menyelipkan doa paling rahasia...
Agar rasa yang begitu gigil kian dihangatkan...

Kusertakan bahuku bersama cinta yang dimunajatkan...
Agar kelak, tak kau temui lagi rasa yang senyap...
Di dada kiriku, engkau menjelma kupu-kupu yang berhias indah sayap-sayap doa...
Jika kecemasanku itu kamu, semoga doa senantiasa menyejukkan ketabahan ini...

Malang, 24 Maret 2015

Rabu, 25 Maret 2015

ASAL USUL BAHLUL

Istilah “bahlul” rasanya cukup akrab di telinga kita. Kata tersebut biasa digunakan untuk menyebut orang yang bodoh, tolol, atau sejenisnya. Sebetulnya, dari mana asal kata itu? Bagaimana pula sejarahnya?

Dalam kitab Uqalâul Majânîn (Orang-orang Gila yang Berakal) karya al-Hasan bin Muhammad bin Habib al-Naisaburi, dikisahkan tentang seorang bernama Bahlul, yang dikenal sebagai orang gila di zaman Abbasiyah saat khalifah Harun al-Rasyid bertakhta.

Pada suatu hari lewat Harun al-Rasyid di hadapan Bahlul al-Majnun yang sedang duduk di dekat kuburan.

Harun al-Rasyid berkata kepadanya: “Wahai Bahlul, kapan kamu berakal?”

Sejurus kemudian, Bahlul beranjak dari tempatnya lalu naik ke atas pohon. Setelah itu, dia memanggil Harun al-Rasyid dengan sekuat suaranya.

“Wahai Harun yang gila, kapan engkau sadar?”

Harun al-Rasyid kemudian menghampiri pohon dengan menunggangi kudanya seraya berkata: “Siapa yang gila, aku atau engkau yg selalu duduk di kuburan?”

“Aku berakal dan engkau yang gila.”

“Bagaimana bisa begitu?”

“Karena aku tahu bahwa gedungmu akan hancur dan kuburan ini tetap kekal. Makanya, aku memakmurkan kubur sebelum gedung. Sementara engkau memakmurkan gedungmu dan menghancurkan kuburmu, sampai-sampai engkau takut dipindahkan dari gedungmu ke kuburan. Padahal, engkau tahu bahwa engkau pasti masuk kubur.”

“Sekarang katakan, wahai Harun, siapa yang gila di antara kita?”

Bergetarlah hati Harun. Lalu, ia pun menangis bercucuran hingga air matanya membasahi jenggot. Kemudian ia berkata, “Demi Allah engkau yang benar. Tambahkan nasihatmu untukku, wahai Bahlul.”

“Cukup bagimu al-Qur'an maka jadikanlah pedoman,” tegas Bahlul.

“Apa engkau memiliki permintaan, wahai Bahlul? Aku akan penuhi,” tanya sang khalifah.

Bahlul berkata, “Iya, aku punya tiga permintaan. Jika engkau penuhi aku akan berterima kasih padamu.”

“Mintalah,” jawab Harun al-Rasyid.

“Tambahkan umurku.”

“Aku tak mampu.”

“Jagalah aku dari malaikat maut.”

“Aku tak mampu.”

“Masukkan aku ke surga dan jauhkan aku dari api neraka.”

“Aku tak mampu.”

“Ketahuilah, wahai khalifah. Engkau itu dimiliki (seorang hamba), bukan pemilik (Tuhan). Aku tidak butuh kepadamu.”

Minggu, 15 Maret 2015

HADIAH UNTUK AYAH

Minggu lalu saya kembali Jum’atan di Graha CIMB Niaga Jalan Sudirman setelah lama sekali nggak sholat Jum’at di situ…
Dengan gaya yang menarik Sang Khotib menceritakan “true story”... Seorang anak berumur 10 th namanya Umar. Dia anak pengusaha sukses yang kaya raya. Oleh ayahnya si Umar di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta... Tentu bisa ditebak, bayarannya sangat mahal, tapi bagi si pengusaha, tentu bukan masalah... Wong uangnya berlimpah… Si ayah berfikir kalau anaknya harus mendapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang agar anaknya kelak menjadi orang yang sukses mengikuti jejaknya... Suatu hari isterinya memberi tahu kalau Sabtu depan si ayah diundang menghadiri acara “Father’s Day” di sekolah Umar... “Waduuuh saya sibuk Ma... Kamu aja deh yang datang...” begitu ucap si ayah kepada isterinya... Bagi dia acara beginian sangat nggak penting dibanding urusan bisnis besarnya.. Tapi kali ini isterinya marah dan mengancam sebab sudah kesekian kalinya si ayah nggak pernah mau datang ke acara anaknya... Dia malu karena anaknya selalu didampingi ibunya, sedang anak-anak yang lain selalu didampingi ayahnya…

Nah karena diancam isterinya, akhirnya si ayah mau hadir meski agak ogah-ogahan... "Father’s Day" adalah acara yg dikemas khusus dimana anak-anak saling unjuk kemampuan di depan ayah-ayahnya.. Karena ayah si Umar ogah-ogahan maka dia memilih duduk di paling belakang, sementara para ayah yang lain (terutama yang muda-muda) berebut duduk di depan agar bisa menyemangati anak-anaknya yang akan tampil di panggung.

Satu persatu anak-anak menampilkan bakat dan kebolehannya masing-masing. Ada yang menyanyi, menari, membaca puisi, pantomim, ada pula yang pamerkan lukisannya, dll. Semua mendapat applause yang gegap-gempita dari ayah-ayah mereka… Tibalah giliran si Umar dipanggil gurunya untuk menampilkan kebolehannya... “Miss, bolehkah saya panggil pak Arief..” tanya si Umar kpd gurunya. Pak Arief adalah guru mengaji untuk kegiatan ekstra kurikuler di sekolah itu… ”Oh boleh..” begitu jawab gurunya, dan Pak Ariefpun dipanggil ke panggung… “Pak Arief, bolehkah bapak membuka Kitab Suci Al Qur’an Surat 78 (An-Naba’)” begitu Umar minta kepada guru ngajinya. ”Tentu saja boleh nak...” jawab Pak Arief...“ Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yang salah..” Lalu si Umar mulai melantunkan QS. An-Naba’ tanpa membaca mushafnya (dengan hapalan) dengan lantunan irama yang persis seperti bacaan “Syaikh Sudais” (Imam Besar Masjidil Haram)… Semua hadirin diam terpaku mendengarkan bacaan si Umar yang mendayu-dayu… Termasuk ayah si Umar yg duduk dibelakang…”Stop... Kamu telah selesai membaca ayat 1 s/d 5 dengan sempurna, sekarang coba kamu baca ayat 9...” begitu kata Pak Arief yang tiba-tiba memotong bacaan Umar. Lalu Umar pun membaca ayat 9…”Stop, coba sekarang baca ayat 21...lalu ayat 33..” Setelah usai Umar membacanya lalu kata Pak Arief “Sekarang kamu baca ayat 40 (ayat terakhir)”... Si Umarpun membaca ayat ke 40 tsb sampai selesai”... “Subhanallah… Kamu hafal Surat An-Naba’ dengan sempurna nak…” begitu teriak Pak Arief sambil mengucurkan air matanya…para hadirin yg muslimpun tak kuasa menahan airmatanya… Lalu pak Arief bertanya kepada Umar: ”Kenapa kamu memilih menghafal Al-Qur’an dan membacakannya di acara ini nak, sementara teman-temanmu unjuk kebolehan yang lain..?” Begitu tanya Pak Arief penasaran…

"Begini Pak guru… Waktu saya malas mengaji dalam mengikuti pelajaran bapak..bapak menegur saya sambil menyampaikan sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa Sallam: ”Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakai-kan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (HR. Al-Hakim)… “Pak guru... Saya ingin mempersembahkan “Jubah Kemuliaan” kepada ibu dan ayah saya di hadapan Allah di akherat kelak, sebagai seorang anak yang berbakti kepada kedua orangnya..” Semua orang terkesiap dan tidak bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 th tsb… Ditengah suasana hening... tiba-tiba terdengar teriakan “Allahu Akbar..!!” dari seseorang yang berlari dari belakang menuju ke panggung…

Ternyata dia ayah si Umar yang dengan tergopoh-gopoh langsung menubruk sang anak... Bersimpuh sambil memeluk anaknya.. ”Ampuun nak... Maafkan ayah yang selama ini tidak pernah memperhatikanmu... Tidak pernah mendidikmu dengan ilmu agama... Apalagi mengajarimu mengaji…” Ucap sang ayah sambil menangis di hadapan anaknya…” AYAH MENGINGINKAN AGAR KAMU SUKSES DI DUNIA NAK... TERNYATA KAMU MALAH MEMIKIRKAN "KEMULIAAN AYAH" DI AKHIRAT KELAK... Ayah maluuu nak" ujar sang Ayah sambil nangis ter-sedu2… Subhanallah... Sampai disini, saya melihat di layar Sang Khotib mengusap air matanya yang mulai jatuh…semua jama’ahpun terpana, dan juga mulai meneteskan air matanya... Termasuk saya. Di antara jama’ah pun bahkan ada yang tidak bisa menyembunyikan suara isak tangisnya... Luar biasa haru...

Entah apa yang ada dibenak jama’ah yang menangis itu... Mungkin ada yang merasa berdosa karena menelantarkan anaknya... Mungkin merasa bersalah karena lalai mengajarkan agama kepda anaknya... Mungkin menyesal karena tidak mengajari anaknya mengaji, atau merasa berdosa karena malas membaca Al-Qur’an yang hanya tergeletak di rak bukunya... dan semua dengan alasan SIBUK URUSAN DUNIA…!!! Saya sendiri menangis karena merasa lalai dengan urusan akhirat, dan lebih sibuk dengan urusan dunia... Padahal saya sudah tahu kalau kehidupan akhirat jauh lebih baik dan kekal dari pada kehidupan dunia yg remeh temeh, senda gurau dan sangat singkat ini... Seperti firman Allah SUbhanahu waTa'ala dalam QS. Al-An'Am ayat: 32 (yang artinya) ”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”... Astaghfirullah... Hamba mohon ampunan kepada Allah..Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang…

Wallahu ‘alam bissawab... Semoga bermanfaat, khususnya bagi saya pribadi…

NHA / Nur Hasan Ahmad (Dengan sedikit editan, insya Allah tanpa mengurangi hikmah kisah)

Senin, 02 Maret 2015

KISAH SECANGKIR KOPI II

Sejatinya, inilah penyakit yang diderita manusia. Banyak orang yang tidak bersyukur kepada Allah atas apa yang ia miliki, setinggi apapun kesuksesannya. Sebab ia selalu membandingkannya dengan apa yang dimiliki orang lain.

Setelah menikah dengan seorang wanita cantik yang berakhlak mulia, ia selalu berfikir bahwa orang lain menikah dengan wanita yang lebih istimewa dari istrinya.

Sudah tinggal di rumah sendiri, namun selalu membayangkan bahwa orang lain rumahnya lebih mewah dari rumah sendiri.

Ia bukannya menikmati kehidupannya beserta istri dan anak-anaknya. Tapi justru selalu memikirkan apa yang dimiliki orang lain, seraya berkata, “Aku belum punya apa yang mereka punya”.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,
"Barang siapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya dan memiliki makanan untuk hari itu, seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya". (HR. Tirmidzi).

Seorang bijak berpetuah,
“Alangkah anehnya kebanyakan manusia! Mereka korbankan kesehatan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Setelah terkumpul, gantian mereka gunakan harta tersebut untuk mengembalikan kesehatannya yang telah hilang!

Mereka selalu gelisah memikirkan masa depan, namun melupakan hari ini. Akibatnya, mereka tidak menikmati hari ini dan tidak pula hidup di masa datang.

Mereka senantiasa melihat apa yang dimiliki orang lain, namun tidak pernah melihat apa yang dimilikinya sendiri. Akibatnya, ia tidak bisa meraih apa yang dimiliki orang lain dan tidak pula bisa menikmati milik sendiri.

Mereka diciptakan untuk satu tujuan, yakni beribadah. Dunia diciptakan untuk mereka gunakan sebagai sarana beribadah. Namun justru sarana tersebut malah melalaikan mereka dari tujuan utama”.

Maka, mari kita nikmati kopi kehidupan tersebut, apapun kondisi kita...

KISAH SECANGKIR KOPI

Suatu hari di sebuah universitas terkenal. Sekelompok alumnus bertamu di rumah dosen senior, setelah bertahun-tahun mereka lulus. Setelah mereka semua menggapai kesuksesan, kedudukan yang tinggi serta kemapanan ekonomi dan sosial.
Setelah saling menyapa dan berbasa basi, masing-masing mereka mulai mengeluhkan pekerjaannya. Jadwal yang begitu padat, tugas yang menumpuk dan banyak beban lainnya yang seringkali membuat mereka stress.

Sejenak sang dosen masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian, beliau keluar sambil membawa nampan di atasnya teko besar berisikan kopi dan berbagai jenis cangkir. Ada cangkir-cangkir keramik tiongkok yang mewah. Cangkir-cangkir kristal. Cangkir-cangkir melamin. Dan cangkir-cangkir plastik. Sebagian cangkir tersebut luar biasa indahnya. Ukirannya, warnanya dan harganya yang waahh. Namun ada juga cangkir plastik yang biasanya berada di rumah orang-orang yang amat miskin.

Sang dosen berkata, “Silahkan.. masing-masing menuangkan kopinya sendiri”.
Setelah setiap mahasiswa memegang cangkirnya, sang dosen berkata,
“Tidakkah kalian perhatikan bahwa hanya cangkir-cangkir mewah saja yang kalian pilih? Kalian enggan mengambil cangkir-cangkir yang biasa?

Manusiawi sebenarnya, saat masing-masing dari kalian berusaha mendapatkan yang paling istimewa. Namun seringkali itulah yang membuat kalian menjadi gelisah dan stress.
Sejatinya yang kalian butuhkan adalah kopi, bukan cangkirnya. Akan tetapi kalian tergiur dengan cangkir-cangkir yang mewah. Terus perhatikanlah, setelah masing-masing kalian memegang cangkir tersebut, kalian akan terus berusaha mencermati cangkir yang dipegang orang lain!. Andaikan kehidupan adalah kopi, maka pekerjaan, harta dan kedudukan sosial adalah cangkir-cangkirnya. Jadi, hal-hal itu hanyalah perkakas yang membungkus kehidupan. Adapun kehidupan (kopi) itu sendiri, ya tetap itu-itu saja, tidak berubah.

Saat konsentrasi kita tersedot kepada cangkir, maka saat itu pula kita akan kehilangan kesempatan untuk menikmati kopi.

Karena itu ku nasehatkan pada kalian, jangan terlalu memperhatikan cangkir, akan tetapi nikmatilah kopinya…

Minggu, 01 Maret 2015

MENYIKAPI MUSIBAH

Alhamdulillah! Segala puji hanya milik Alloh Swt. Hanya Alloh tempat kembali segala urusan. Hanya Alloh yang tempat memohon pertolongan. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada kekasih Alloh, baginda nabi Muhammad Saw.

Saudaraku, tentu saja kita sangat berharap hidup kita ini selalu ada dalam kemudahan, kelapangan, dan kebahagiaan. Tetapi ternyata kebahagiaan dan kegembiraan itu tidak selalu datang dari hal-hal yang kita sukai.

Mari kita simak firman Alloh Swt. di dalam Al Quran berikut ini,

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَىۡءٍ۬ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٍ۬ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٲلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٲتِ‌ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ (١٥٥) ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٌ۬ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٲجِعُونَ (١٥٦
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun”.”
(QS. Al Baqoroh [2] : 155-156)

Dalam ayat ini Alloh Swt. dengan sangat terang-benderang menjelaskan bahwa pasti akan datang ujian di dalam hidup kita. Tidak selamanya menyenangkan, kadang muncul juga kejadian yang tak mengenakan. Tidak selamanya menggembirakan, kadang muncul juga kejadian yang menyedihkan.
Akan tetapi, akan datang kebahagiaan yang sejati di balik semua ujian atau musibah itu. Kebahagiaan yang hanya datang kepada orang-orang yang bersabar.

Siapakah orang yang sabar itu? Alloh menjelaskan bahwa orang yang sabar adalah orang yang ketika ia ditimpa musibah, maka mulutnya, hatinya, sikapnya, kompak mengucapkan “Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun”.

Saudaraku, apa maksud dari kalimat ini? Kalimat ini artinya, “Sesungguhnya kami ini milik Alloh, dan hanya kepada Alloh kami akan kembali”. Maka kalimat ini menunjukkan bahwa ada dua kunci utama bagi orang yang ingin bersabar.

Pertama, hilangnya rasa memiliki. Kita yakin bahwa diri kita dan segala yang kita miliki adalah milik Alloh Swt.

Kedua, hilangnya tempat kembali, kecuali hanya Alloh Swt. satu-satunya tempat kembali. Hanya Alloh Swt. tempat kembalinya segala urusan. Dan, meyakini dengan sepenuh hati bahwa kita pasti akan kembali kepada Alloh Swt.

Semakin kita tidak merasa memiliki, kecuali bahwa yang kita miliki ini tiada lain adalah hanya titipan dari Alloh Swt. maka akan semakin ringan kita menjalani hidup ini. Akan semakin ringan kita menghadapi setiap musibah yang terjadi dalam hidup kita. Sebaliknya, jikalau semakin besar rasa memiliki dalam hati kita, maka akan semakin berat untuk bersabar.

Semakin kuat keyakinan kita bahwa hanya Alloh Swt. yang kuasa memberikan pertolongan, maka akan semakin tangguh kita menghadapi setiap musibah. Sebaliknya, semakin kita mencari penolong selain Alloh, maka akan semakin resah gelisah hati kita dan semakin jauh dari pertolongan Alloh.

Lisan mengucap “Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun” disertai keyakinan, itulah pangkal kebahagiaan yang hakiki. Hanya orang yang bersabar yang akan memperoleh pertolongan Alloh, dan hanya orang-orang yang bersabar yang akan mampu melewati setiap musibah dengan hati yang lapang. Sehingga hidupnya akan diliputi dengan ketenangan dan kebahagiaan. Sungguh, kita ini milik Alloh dan hanya kepada Alloh kita kita akan kembali. Semoga kita termasuk orang-orang yang sabar.[]

Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )