Pagi itu Aku bangun lebih pagi dari biasanya. Setelah semalam sebelumnya Aku banyak berpikir tentangmu, tentang apa yang akan terjadi pada esok hari, yaitu hari ini. Kamar tidur berukuran kurang dari 4x4 meter, selimut merah bermotif bunga berwarna kuning, serta bantal yang tidak lagi empuk ialah saksi bisu selain mataku sendiri yang sulit terpejam karena memikirkanmu, memikirkan hari ini. Tak ubahnya anak kecil yang menangis histeris ditengah malam, dikarenakan haus akan air susu dari payudara milik Ibunya.
Pukul dua dini hari, seingat penglihatanku. Dimana sebagian orang sedang menikmati lelapnya malam, dimana para penggila bola sedang terbius menyaksikan pertandingan, dimana para penjual sayur sedang bersiap mencari barang dagangannya, dimana seekor ayam bersiap berkokok untuk menyambut kedatangan pagi, namun mataku masih berusaha untuk terlelap. Entah pada hitungan detik keberapa, mataku akhirnya tertidur tanpa pamit terlebih dahulu. Kamu tidak harus mengerti tentang ini, sebab mengerti saja takkan cukup membuatmu mengerti. Maka cukup Aku, mataku dan kepalaku saja yang mengerti, sedang Kamu, tidak.
Mentari pagi masih bersembunyi, bersamaan dengan suara adzan subuh yang terdengar di beberapa mushola disekitar tempat tinggalku. Setengah lima pagi, sekelebat saja mataku memejam. Pagi seakan menyuruhku untuk bangun, seolah-olah memukul kedua pipiku dengan keras, menyiramku dengan air dingin sedingin air es dalam kulkas hingga tak ada alasan lagi buatku untuk memanjangkan tidurku.
Bergegas Aku dari ranjang yang telah menemani tidurku sepanjang usiaku. Ranjang yang kata Ibu, Beliau dapat ketika Aku baru menginjak usia kurang dari satu tahun. Beliau sengaja membelinya saat Aku masih bayi, sebab hal itu Beliau lakukan sebagai nadzarnya telah dikarunia seorang anak laki-laki dari Tuhan.
Ku basuh wajahku dengan tetesan air wudhu yang keluar dari kran di depan kamar mandi rumahku. Segeralah Aku menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba Tuhan, ialah sholat.
Semenjak berusia enam tahun, Ibuku selalu menyuruhku untuk tidak melupakan sholat. Beliau selalu mengajarkan kepada anak-anaknya tentang betapa pentingnya sholat itu sendiri, melebihi kepentingan apapun. Sebab sholatlah yang akan melancarkan kepentingan Kita, apapun kepentingan itu.
Disubuh itu, Aku sengaja menengadahkan kedua tanganku untuk memohon agar kepentinganku dihari ini Tuhan pentingkan, yaitu kepentinganku tentangmu. Kepentinganmu yang melebihi kepentingan apapun. Apapun itu, Kamulah yang lebih penting, Kamulah yang terpenting melebihi kepentingan diriku sendiri.
Bersambung...