Pilihan itu selalu tidak gampang, tak segampang menghitung jumlah gerimis yang turun bersama hujan. Lalu membasahi seluruh kaca jendela dalam ruang ingatanku. Bergegas Aku mendekat, tanpa harus menunggu perintah, segeralah ku goreskan jari telunjuk ini pada separuh dari kaca jendela tersebut. Kemudian dijadikannya satu nama yang tidak asing lagi, yaitu Kamu. Sedangkan separuhnya lagi ialah namaku. Iyah benar? Namamu dan namaku menyatu dalam ingatanku.
Selalu yang dicari manusia ialah kebahagiaan, biarpun dengan cara memaksa atau tidak. Seringkali kebahagiaan itu harus didapat dengan pengorbanan lebih, serta resiko yang tidak sembarangan. Kebahagian yang nyata bagiku, ialah saat Aku Habibie dan Kamu Ainun, perempuan yang begitu dicintainya. Kenapa meski demikian? Sebab Kamu tidak hanya datang, namun juga tinggal, lalu menjadi tunggal dan menetap disana, dalam ruang hati ini.
Aku pernah sakit, sesakit melihatmu bersama lelaki lain pada suatu ketika. Apalah daya, tangan ini tak sanggup memukul jatuh dan membawamu kembali kepelukan. Jadilah air mata sebagai jawaban dari peristiwa luar biasa ditengah hari itu. Tepat sehari sebelum Aku pergi, sekumpulan masa lalu tak berbusana mengejarku, hingga menelanjangiku tanpa sehelai benangpun. Sebelum ceritanya menjadi ending yang sempurna diatas batu nisanku. Inilah pilihanku yg tak segampang pilihanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar