Aku mengenalnya dengan cara baik. Sebegitu baiknya, hingga Aku tak tahu bagaimana caranya agar Aku bisa benar-benar baik meski tanpanya.
Apakah segala sesuatu yang baik harus demikian? Harus ada air mata yang menderai. Kepada hujan, air mata ini ingin menetes. Agar tak seorang pun mengerti, mana air mata dan mana air hujan.
Apakah segala sesuatu yang baik harus seperti ini? Harus ada kepala yang tak lelah mengingat. Aku masih ingat betul, hal apa sajakah yang Ia benci. Aku paham, bahwa Ia benci dengan Aku yang tanpa kabar. Apakah sekarang Ia masih benci akan hal itu?
Hampir setahun lebih lamanya, Aku tanpa kabarnya, Ia tanpa kabarku, Kita saling tak berbagi kabar satu sama lain. Agaknya Kita mirip sepasang gedung yang saling berhadapan, yang tak mengerti bagaimana caranya memulai sebuah percakapan. Sebelum pada akhirnya, salah satu atau keduanya akan runtuh ditelan oleh waktu.
Waktu yang dikenal oleh banyak orang dengan istilah takdir. Seperti Kita yang tak pernah mengerti, akan kemanakah takdir membawa Kita dikemudian hari, esok dan selamanya!
Karya : Djani Abimanyu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar