Di kesempatan ini, Aku masih menulis segala ingatan yang masih tentangmu. Dan semoga, ketika kelak ini sampai dihadapanmu, Kau tak melewatkannya begitu saja.
Bagaimana kabarmu sekarang? Semoga segala yang baik selalu bersama ceritamu. Sekalipun disini, Aku jauh dari kata baik. Sebab sepeninggalanmu, Aku tak pernah merasakan itu. Sebaik-baiknya Aku ialah saat bersama dan didekatmu, itu saja.
Seperti apakah Kau sekarang? Semakin lebih sederhanakah atau semakin luar biasa hebat? Masih sehijau daun pandankah? Atau sudah menjadi sekekuning warna janur?
Tak peduli seperti apakah Kau sekarang, Aku tetap merindumu, tetap menyimpan segala ingatan tentangmu. Aku harap Kau mengerti, dan sama denganku. Meski sepertinya itu mustahil untuk terjadi, Aku tetap berharap demikianlah.
Mencintaimu tidak harus dengan menghalalkan segala cara, tapi mencintaimu haruslah dengan cara yang halal. Seperti dengan mencintai tanpa memilikimu ialah salah satu diantaranya.
Ada seorang perempuan tua menyapaku, lalu sedikit bercerita tentang kabarmu yang telah lama tanpa kabarku. Aku hanya sanggup tersenyum kecil, sekecil noda hitam pada kaos pemberianmu itu. Walaupun sebenarnya, hati ini sangatlah gundah gulana. Tak mengerti harus berkata apa dan bagaimana.
Apakah Kau masih ingat siapakah perempuan tua itu? Perempuan yang tak pernah lepas dari daster bermotif batik dan bunga. Beliau ialah pemilik rumah dimana Kau sempat tinggal dulu, yang Kau panggil dengan sebutan nenek.
Tak terasa menulis sesingkat ini saja, sudah banyak membuat ingatan ini meneteskan banyak airmata. Hingga pandanganku menjadi kabur, sekabur kaca jendela kamarku yang penuh dengan embun kenangan tentangmu.
Terima kasih atas segala cerita yang pernah Kita bagi berdua. Semoga masing-masing dari Kita akan terus menyimpannya, dan tak akan membaginya dengan orang selain Kita sampai maut menjemputnya. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar