Apa
yang Aku sebut awal ialah pada hari itu. Belum sekalipun Aku pernah menyaksikan
hari yang sebegitu demikiannya. Tak seperti pagi yang selalu ada, ini lain dari
biasanya. Ibarat pelangi yang muncul berwarna penuh keeemasan, ketika hujan
sedang deras-derasnya sebelum berpamit untuk reda. Sedangkan seorang Ibu
memakai payungnya bukan untuk terlindung dari hujan, melainkan untuk Anaknya
agar tak basah sama sekali.
Demikian
itulah Kamu. Kamu yang begitu sempurna, ditengah-tengah ketidakmungkinanku yang
ingin menjadi mungkin. Kamu yang begitu nyata, didalam keterbatasan diriku yang
memiliki banyak batas. Kamu yang begitu larut, selarut kadar oksigen dalam
segelas air putih.
Apakah
ini lebih dari berlebihan? Atau melebih-lebihkan? Atau apa saja yang lebih
pantas dinamakan? Namun, Aku rasa ini hanyalah sebatas kebiasaan. Iya benar,
kebiasaanku yang tak biasa untuk tidak menyanjungmu. Sebagaimana kebiasaan suku
pedalaman yang selalu memakai baju adat disetiap harinya. Sebagaimana para Abdi
Dalam yang selalu bertutur kata lembut didalam lingkup Keraton Jogja.
Sebagaimana Aku yang terus melebihkanmu, tanpa mengenal jarak, ruang maupun
waktu.
Sekali
lagi ingatanku mencoba untuk mengingat-ingat. Untuk kali pertama Kita
dipertemukan dengan cara Tuhan, bukan dengan kesengajaan, bukan melalui pesan
pendek, bukan juga melalui surat cinta atau media social apapun. Meskipun hanya
sebatas saling mencuri pandang tanpa saling bertegur sapa, itu sudah cukup
segalanya bagiku. Ingin rasanya Aku hentikan waktu ketika itu, meski hanya
beberapa menit saja. Apalah daya, Tuhan tidak memberiku kesempatan. Berawal
dari lima detik itulah, senyummu menyirami ragaku yang telah lama tandus dan
mengering.
Sebelumnya tidak Aku percaya jika ada cinta, jatuh pada
pandangan pertama. Apalagi hanya dalam lima detik saja, namun tampaknya Aku
harus tega menelan ludahku sendiri. Benar memang, menelan ludahku sendiri. Pada
pandangan pertamamu, Aku jatuh hati sejatuh-jatuhnya. Dimatamu seolah ada hutan
lebat dan inginku tersesat didalamnya dan tak ingin mengerti jalan kembali
pulang. Diwajahmu seakan terdapat danau air tawar, dimana meski Aku tenggelam,
Aku takkan mati dan tetap hidup.
Itulah
sebatas pertemuan singkat, sebelum ada kata saling mengenal, sebelum ada kata
saling mengerti, sebelum saling menjadi sepasang dan sebelum saling berbagi
ingatan satu sama lain. Itulah awal dimana Aku dan Kamu, dipertemukan oleh
rencana Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar