Kamis, 18 Desember 2014

SEKITAR BULAN NOVEMBER 2010

Apa yang Aku sebut awal ialah pada hari itu. Belum sekalipun Aku pernah menyaksikan hari yang sebegitu demikiannya. Tak seperti pagi yang selalu ada, ini lain dari biasanya. Ibarat pelangi yang muncul berwarna penuh keeemasan, ketika hujan sedang deras-derasnya sebelum berpamit untuk reda. Sedangkan seorang Ibu memakai payungnya bukan untuk terlindung dari hujan, melainkan untuk Anaknya agar tak basah sama sekali.
Demikian itulah Kamu. Kamu yang begitu sempurna, ditengah-tengah ketidakmungkinanku yang ingin menjadi mungkin. Kamu yang begitu nyata, didalam keterbatasan diriku yang memiliki banyak batas. Kamu yang begitu larut, selarut kadar oksigen dalam segelas air putih.
Apakah ini lebih dari berlebihan? Atau melebih-lebihkan? Atau apa saja yang lebih pantas dinamakan? Namun, Aku rasa ini hanyalah sebatas kebiasaan. Iya benar, kebiasaanku yang tak biasa untuk tidak menyanjungmu. Sebagaimana kebiasaan suku pedalaman yang selalu memakai baju adat disetiap harinya. Sebagaimana para Abdi Dalam yang selalu bertutur kata lembut didalam lingkup Keraton Jogja. Sebagaimana Aku yang terus melebihkanmu, tanpa mengenal jarak, ruang maupun waktu.
Sekali lagi ingatanku mencoba untuk mengingat-ingat. Untuk kali pertama Kita dipertemukan dengan cara Tuhan, bukan dengan kesengajaan, bukan melalui pesan pendek, bukan juga melalui surat cinta atau media social apapun. Meskipun hanya sebatas saling mencuri pandang tanpa saling bertegur sapa, itu sudah cukup segalanya bagiku. Ingin rasanya Aku hentikan waktu ketika itu, meski hanya beberapa menit saja. Apalah daya, Tuhan tidak memberiku kesempatan. Berawal dari lima detik itulah, senyummu menyirami ragaku yang telah lama tandus dan mengering.
            Sebelumnya tidak Aku percaya jika ada cinta, jatuh pada pandangan pertama. Apalagi hanya dalam lima detik saja, namun tampaknya Aku harus tega menelan ludahku sendiri. Benar memang, menelan ludahku sendiri. Pada pandangan pertamamu, Aku jatuh hati sejatuh-jatuhnya. Dimatamu seolah ada hutan lebat dan inginku tersesat didalamnya dan tak ingin mengerti jalan kembali pulang. Diwajahmu seakan terdapat danau air tawar, dimana meski Aku tenggelam, Aku takkan mati dan tetap hidup.
Itulah sebatas pertemuan singkat, sebelum ada kata saling mengenal, sebelum ada kata saling mengerti, sebelum saling menjadi sepasang dan sebelum saling berbagi ingatan satu sama lain. Itulah awal dimana Aku dan Kamu, dipertemukan oleh rencana Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar