Minggu, 07 Juni 2015

MOMENT DALAM HIDUP

Bagaimana kita menangkap dan merekam semua moment yang terjadi dalam hidup kita..?

Hidup ini singkat, terlalu singkat...
Al quran mengabarkan pada kita bahwa hidup didunia ini seperti 1 jam saja...
Lalu bagaimanakah kita memaknainya ?

Ada bahagia dibeberapa momentnya...
Ibarat sebuah kamera, kita dapat merekamnya dan menyimpannya pada memory kita...

Ada sedih didalamnya, penuh air mata, rasa kecewa, duka yang merobek hati...
Dan tak jarang kita pun bertanya dalam hati...
Ya Allah, kenapa harus aku..?
Kenapa bukan orang lain yang mengalami ini?

Andai saja kita tahu bagaimana Allah telah mengatur hidup kita dalam buku LauhMahfuz...
Semenjak kita didalam kandungan, Allah telah meniupkan setiap momen yang akan kita jalani...

Bukan hanya kamu, bukan hanya aku, bukan hanya kalian...
Semua Mahluk Allah pernah merasakan pahitnya menjalani kehidupan...

Senyum seseorang bukan berarti hidupnya selalu bahagia...
Keceriaan seseorang tidak menjamin hari-harinya selalu penuh dengan kesempurnaan...

Tapi dikarenakan dia sadar...
Jika tidak ada yang perlu dikeluhkan didunia ini...
Seberat apapun, sepahit apapun...
Semua akan berlalu, yang tersisa hanya hikmah dan pahala, atau dosa didalamnya...
Tinggal bagaimana kita menghadapinya...
Semua ada ganjarannya...

Allah menjanjikan pahala dan kebahagiaan sebagai balasan kebaikan dan ketaqwaan kita...
Allah mengancam hukuman siksa neraka, siksa kubur bahkan ganjaran kontan didunia untuk setiap dosa dan janji Allah itu adalah benar...

Lantas bagaimanakah kita akan merekam dan memaknai setiap moment dalam hidup kita ini..?

Ikhlaskanlah dan yakinkanlah pada janji Allah...
Percayalah bahwa Allah tak pernah memberikan cobaan melebihi kemampuan yang dimiliki hambanya...

#Subhanallah #Alhamdulillah #BarokallahuFik #Nasehat #Untuk #Diri #Sendiri #JazakallahuKhair #IslamItuIndah

Jumat, 22 Mei 2015

KADANGKALA

Ada satu jilid dalam hidup...
Bisa saja dijadikan sebuah buku...
Agar disetiap harinya dapat dibaca...
Dapat dipeluk erat hingga bermimpi...
Dapat ditatap semaunya hingga tersenyum...
Dapat disimpan hingga sanubari menjadi saksi...

Tapi...

Segalanya hanya mampu dirasa...
Segala yang dilalui tidak mampu diungkapkan dengan sepatah kata...
Tak semua kisah kita mampu dipahami manusia...
Tak semua kisah kita dilalui oleh semua orang....

Kadangkala...

Tuhan berbuat sedemikian rupa...
Bukan untuk menyiksa hambanya...
Tapi untuk kita agar senantiasa belajar dari segala kenangan kita bersama manusia...

Biar kenangan itu, dipahat dalam tiupan doa...
Biar ia bersifat kekal, hingga sampai nafas diujung nyawa...

Sharing Poem, Poetry.
Sabtu, Mei 23, 2015.

KENAPA HARUS MENUJU MASJID

Perjalanan terjauh dan terberat ialah perjalanan menuju masjid...
Betapa banyak orang yg kaya raya, tapi tak sanggup untuk mengerjakannya...
Jangankan sehari lima waktu, seminggu sekali pun terlupa...
Tidak jarang pula seumur hidup, tidak pernah singgah ke sana...

Orang pintar dan pandai pun sering tidak mampu melakukannya...
Walaupun mereka mampu mencari ilmu hingga ke universitas di Eropa, Australia ataupun Amerika...
Mampu melangkahkan kaki ke Jepang, Cina dan Korea dengan semangat yang membara...
Namun ke masjid, tetap saja perjalanan yang tidak mampu mereka tempuh, walaupun telah bergelar profesor, Doctor ataupun Filsafat..

Maka berbahagialah bagi seseorang yang telah terbiasa melangkahkan kaki ke masjid...
Karena Baginya, sejauh manapun melangkahkan kaki, tidak ada perjalanan yang paling dibanggakan selain perjalananmu menuju masjid...

Biar aku beritahu sebuah rahasia...

Sejatinya perjalanan ke masjid ialah perjalanan untuk menemui Rabbmu...
Itulah perjalanan yang diajarkan oleh Nabi serta perjalanan yang akan membedakanmu dengan orang-orang yang lupa akan Rabbnya...

Maka lakukanlah walaupun harus merangkak dalam gelapnya subuh, walaupun harus kepanasan menjelang dzuhur tiba...
Semua itu demi mengenal Rabbmu, Allah Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang...

Wallahu a’lam bishawab...

Rabu, 22 April 2015

DUNIA TAK LEBIH BERHARGA DARI SEHELAI SAYAP NYAMUK

Dari Sahl bin Sa’id as-Sa’idi radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata: ‘hadits hasan sahih’)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ ، وَجَنَّةُ الكَافِرِ

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir” (HR. Muslim)

Dari Ka’ab bin ‘Iyadh radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً ، وفِتْنَةُ أُمَّتِي : المَالُ

“Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, sedangkan fitnah umatku adalah harta” (HR. Tirmidzi,dia berkata: ‘hadits hasan sahih’)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ لاَ عَيْشَ إِلاَّ عَيْشَ الآخِرَةِ

“Ya Allah tidak ada kehidupan yang sejati selain kehidupan akhirat” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُنْ في الدُّنْيَا كَأنَّكَ غَرِيبٌ ، أَو عَابِرُ سَبيلٍ

“Jadilah kamu di dunia seperti halnya orang asing atau orang yang sekedar numpang lewat/musafir” (HR. Bukhari)

Semoga bermanfaat... #Beritaislamimasakini #beriman_ttv

Senin, 13 April 2015

KISAH TELADAN ISLAMI TENTANG SI TUKANG BATU YANG DICIUM RASULULLAH

Diriwayatkan pada saat itu Rasulullah baru tiba dari Tabuk, peperangan dengan bangsa Romawi yang kerap menebar ancaman pada kaum muslimin. Banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan ada uzur.

Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.

Sang manusia Agung itupun bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?”

Si tukang batu menjawab, “Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”

Rasulullah adalah manusia paling mulia, tetapi orang yang paling mulia tersebut begitu melihat tangan si tukang batu yang kasar karena mencari nafkah yang halal, Rasul pun menggenggam tangan itu, dan menciumnya seraya bersabda,

“Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada”, ‘inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya’.

Rasulullahl tidak pernah mencium tangan para Pemimpin Quraisy, tangan para Pemimpin Khabilah, Raja atau siapapun. Sejarah mencatat hanya putrinya Fatimah Az Zahra dan tukang batu itulah yang pernah dicium oleh Rasulullah. Padahal tangan tukang batu yang dicium oleh Rasulullah justru tangan yang telapaknya melepuh dan kasar, kapalan, karena membelah batu dan karena kerja keras.

Suatu ketika seorang laki-laki melintas di hadapan Rasulullah. Orang itu di kenal sebagai pekerja yang giat dan tangkas. Para sahabat kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, andai bekerja seperti dilakukan orang itu dapat digolongkan jihad di jalan Allah (Fi sabilillah), maka alangkah baiknya.” Mendengar itu Rasul pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fi sabilillah.” (HR Thabrani)

Orang-orang yang pasif dan malas bekerja, sesungguhnya tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan sebagian dari harga dirinya, yang lebih jauh mengakibatkan kehidupannya menjadi mundur. Rasulullah amat prihatin terhadap para pemalas.

”Maka apabila telah dilaksanakan shalat, bertebaranlah kam di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS. Al-Jumu’ah 10)

”Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi ini”. (QS Nuh19-20)

”Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”. (HR. Ibnu Asakir dari Anas)

”Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni”. (HR. Thabrani dan lbnu Abbas)

”Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang makan sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud, selalu makan dan hasil usahanya”. (HR. Bukhari)

”Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)

”Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang dijaIan Allah ‘Azza Wa Jalla”. (HR. Ahmad)

Demikian lah sebagan kecil tentang kisah teladan islami agar kita semakin tahu dan semakin giat dalam mencari rizki allah yang halal dan berkah.

Minggu, 12 April 2015

TIGA GOLONGAN MANUSIA YANG TIDAK DIAJAK BICARA OLEH ALLAH SWT

Diriwayatkan dari Abu Dzarr radhiallahu'anhu dari Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda :

ُ
“Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat kelak, tidak diperhatikan, tidak disucikan dan mereka akan mendapat siksa yang sangat pedih.”
Ia berkata: “Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam mengucapkannya sebanyak tiga kali.”
Abu Dzarr bertanya: “Sungguh sangat jelek dan merugi mereka itu. Siapa mereka itu wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab: “Musbil (orang yang menjulurkan kain hingga di bawah mata kaki), orang yang gemar mengungkit kebaikan yang telah ia berikan dan seorang yang menjual dagangannya dan bersumpah dengan sumpah palsu.”

Senin, 30 Maret 2015

KUSERTAKAN BAHUKU

Kusertakan bahuku dengan ketulusan...
Agar ketabahannya mampu menahan berat beban...
Tempat ia menyandarkan segala cemas dengan ikhlas...

Sesering aku yang mencemburui sajadah malammu...
Ia yang kau jadikan tempat berkeluh kesah dari segala penat gelisahmu...
Diantara sujud paling sunyi pada sepertiganya...
Jika malam setia memeluk gelisahmu...
Aku ingin senantiasa menyelipkan doa paling rahasia...
Agar rasa yang begitu gigil kian dihangatkan...

Kusertakan bahuku bersama cinta yang dimunajatkan...
Agar kelak, tak kau temui lagi rasa yang senyap...
Di dada kiriku, engkau menjelma kupu-kupu yang berhias indah sayap-sayap doa...
Jika kecemasanku itu kamu, semoga doa senantiasa menyejukkan ketabahan ini...

Malang, 24 Maret 2015

Rabu, 25 Maret 2015

ASAL USUL BAHLUL

Istilah “bahlul” rasanya cukup akrab di telinga kita. Kata tersebut biasa digunakan untuk menyebut orang yang bodoh, tolol, atau sejenisnya. Sebetulnya, dari mana asal kata itu? Bagaimana pula sejarahnya?

Dalam kitab Uqalâul Majânîn (Orang-orang Gila yang Berakal) karya al-Hasan bin Muhammad bin Habib al-Naisaburi, dikisahkan tentang seorang bernama Bahlul, yang dikenal sebagai orang gila di zaman Abbasiyah saat khalifah Harun al-Rasyid bertakhta.

Pada suatu hari lewat Harun al-Rasyid di hadapan Bahlul al-Majnun yang sedang duduk di dekat kuburan.

Harun al-Rasyid berkata kepadanya: “Wahai Bahlul, kapan kamu berakal?”

Sejurus kemudian, Bahlul beranjak dari tempatnya lalu naik ke atas pohon. Setelah itu, dia memanggil Harun al-Rasyid dengan sekuat suaranya.

“Wahai Harun yang gila, kapan engkau sadar?”

Harun al-Rasyid kemudian menghampiri pohon dengan menunggangi kudanya seraya berkata: “Siapa yang gila, aku atau engkau yg selalu duduk di kuburan?”

“Aku berakal dan engkau yang gila.”

“Bagaimana bisa begitu?”

“Karena aku tahu bahwa gedungmu akan hancur dan kuburan ini tetap kekal. Makanya, aku memakmurkan kubur sebelum gedung. Sementara engkau memakmurkan gedungmu dan menghancurkan kuburmu, sampai-sampai engkau takut dipindahkan dari gedungmu ke kuburan. Padahal, engkau tahu bahwa engkau pasti masuk kubur.”

“Sekarang katakan, wahai Harun, siapa yang gila di antara kita?”

Bergetarlah hati Harun. Lalu, ia pun menangis bercucuran hingga air matanya membasahi jenggot. Kemudian ia berkata, “Demi Allah engkau yang benar. Tambahkan nasihatmu untukku, wahai Bahlul.”

“Cukup bagimu al-Qur'an maka jadikanlah pedoman,” tegas Bahlul.

“Apa engkau memiliki permintaan, wahai Bahlul? Aku akan penuhi,” tanya sang khalifah.

Bahlul berkata, “Iya, aku punya tiga permintaan. Jika engkau penuhi aku akan berterima kasih padamu.”

“Mintalah,” jawab Harun al-Rasyid.

“Tambahkan umurku.”

“Aku tak mampu.”

“Jagalah aku dari malaikat maut.”

“Aku tak mampu.”

“Masukkan aku ke surga dan jauhkan aku dari api neraka.”

“Aku tak mampu.”

“Ketahuilah, wahai khalifah. Engkau itu dimiliki (seorang hamba), bukan pemilik (Tuhan). Aku tidak butuh kepadamu.”

Minggu, 15 Maret 2015

HADIAH UNTUK AYAH

Minggu lalu saya kembali Jum’atan di Graha CIMB Niaga Jalan Sudirman setelah lama sekali nggak sholat Jum’at di situ…
Dengan gaya yang menarik Sang Khotib menceritakan “true story”... Seorang anak berumur 10 th namanya Umar. Dia anak pengusaha sukses yang kaya raya. Oleh ayahnya si Umar di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta... Tentu bisa ditebak, bayarannya sangat mahal, tapi bagi si pengusaha, tentu bukan masalah... Wong uangnya berlimpah… Si ayah berfikir kalau anaknya harus mendapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang agar anaknya kelak menjadi orang yang sukses mengikuti jejaknya... Suatu hari isterinya memberi tahu kalau Sabtu depan si ayah diundang menghadiri acara “Father’s Day” di sekolah Umar... “Waduuuh saya sibuk Ma... Kamu aja deh yang datang...” begitu ucap si ayah kepada isterinya... Bagi dia acara beginian sangat nggak penting dibanding urusan bisnis besarnya.. Tapi kali ini isterinya marah dan mengancam sebab sudah kesekian kalinya si ayah nggak pernah mau datang ke acara anaknya... Dia malu karena anaknya selalu didampingi ibunya, sedang anak-anak yang lain selalu didampingi ayahnya…

Nah karena diancam isterinya, akhirnya si ayah mau hadir meski agak ogah-ogahan... "Father’s Day" adalah acara yg dikemas khusus dimana anak-anak saling unjuk kemampuan di depan ayah-ayahnya.. Karena ayah si Umar ogah-ogahan maka dia memilih duduk di paling belakang, sementara para ayah yang lain (terutama yang muda-muda) berebut duduk di depan agar bisa menyemangati anak-anaknya yang akan tampil di panggung.

Satu persatu anak-anak menampilkan bakat dan kebolehannya masing-masing. Ada yang menyanyi, menari, membaca puisi, pantomim, ada pula yang pamerkan lukisannya, dll. Semua mendapat applause yang gegap-gempita dari ayah-ayah mereka… Tibalah giliran si Umar dipanggil gurunya untuk menampilkan kebolehannya... “Miss, bolehkah saya panggil pak Arief..” tanya si Umar kpd gurunya. Pak Arief adalah guru mengaji untuk kegiatan ekstra kurikuler di sekolah itu… ”Oh boleh..” begitu jawab gurunya, dan Pak Ariefpun dipanggil ke panggung… “Pak Arief, bolehkah bapak membuka Kitab Suci Al Qur’an Surat 78 (An-Naba’)” begitu Umar minta kepada guru ngajinya. ”Tentu saja boleh nak...” jawab Pak Arief...“ Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yang salah..” Lalu si Umar mulai melantunkan QS. An-Naba’ tanpa membaca mushafnya (dengan hapalan) dengan lantunan irama yang persis seperti bacaan “Syaikh Sudais” (Imam Besar Masjidil Haram)… Semua hadirin diam terpaku mendengarkan bacaan si Umar yang mendayu-dayu… Termasuk ayah si Umar yg duduk dibelakang…”Stop... Kamu telah selesai membaca ayat 1 s/d 5 dengan sempurna, sekarang coba kamu baca ayat 9...” begitu kata Pak Arief yang tiba-tiba memotong bacaan Umar. Lalu Umar pun membaca ayat 9…”Stop, coba sekarang baca ayat 21...lalu ayat 33..” Setelah usai Umar membacanya lalu kata Pak Arief “Sekarang kamu baca ayat 40 (ayat terakhir)”... Si Umarpun membaca ayat ke 40 tsb sampai selesai”... “Subhanallah… Kamu hafal Surat An-Naba’ dengan sempurna nak…” begitu teriak Pak Arief sambil mengucurkan air matanya…para hadirin yg muslimpun tak kuasa menahan airmatanya… Lalu pak Arief bertanya kepada Umar: ”Kenapa kamu memilih menghafal Al-Qur’an dan membacakannya di acara ini nak, sementara teman-temanmu unjuk kebolehan yang lain..?” Begitu tanya Pak Arief penasaran…

"Begini Pak guru… Waktu saya malas mengaji dalam mengikuti pelajaran bapak..bapak menegur saya sambil menyampaikan sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa Sallam: ”Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakai-kan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (HR. Al-Hakim)… “Pak guru... Saya ingin mempersembahkan “Jubah Kemuliaan” kepada ibu dan ayah saya di hadapan Allah di akherat kelak, sebagai seorang anak yang berbakti kepada kedua orangnya..” Semua orang terkesiap dan tidak bisa membendung air matanya mendengar ucapan anak berumur 10 th tsb… Ditengah suasana hening... tiba-tiba terdengar teriakan “Allahu Akbar..!!” dari seseorang yang berlari dari belakang menuju ke panggung…

Ternyata dia ayah si Umar yang dengan tergopoh-gopoh langsung menubruk sang anak... Bersimpuh sambil memeluk anaknya.. ”Ampuun nak... Maafkan ayah yang selama ini tidak pernah memperhatikanmu... Tidak pernah mendidikmu dengan ilmu agama... Apalagi mengajarimu mengaji…” Ucap sang ayah sambil menangis di hadapan anaknya…” AYAH MENGINGINKAN AGAR KAMU SUKSES DI DUNIA NAK... TERNYATA KAMU MALAH MEMIKIRKAN "KEMULIAAN AYAH" DI AKHIRAT KELAK... Ayah maluuu nak" ujar sang Ayah sambil nangis ter-sedu2… Subhanallah... Sampai disini, saya melihat di layar Sang Khotib mengusap air matanya yang mulai jatuh…semua jama’ahpun terpana, dan juga mulai meneteskan air matanya... Termasuk saya. Di antara jama’ah pun bahkan ada yang tidak bisa menyembunyikan suara isak tangisnya... Luar biasa haru...

Entah apa yang ada dibenak jama’ah yang menangis itu... Mungkin ada yang merasa berdosa karena menelantarkan anaknya... Mungkin merasa bersalah karena lalai mengajarkan agama kepda anaknya... Mungkin menyesal karena tidak mengajari anaknya mengaji, atau merasa berdosa karena malas membaca Al-Qur’an yang hanya tergeletak di rak bukunya... dan semua dengan alasan SIBUK URUSAN DUNIA…!!! Saya sendiri menangis karena merasa lalai dengan urusan akhirat, dan lebih sibuk dengan urusan dunia... Padahal saya sudah tahu kalau kehidupan akhirat jauh lebih baik dan kekal dari pada kehidupan dunia yg remeh temeh, senda gurau dan sangat singkat ini... Seperti firman Allah SUbhanahu waTa'ala dalam QS. Al-An'Am ayat: 32 (yang artinya) ”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”... Astaghfirullah... Hamba mohon ampunan kepada Allah..Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang…

Wallahu ‘alam bissawab... Semoga bermanfaat, khususnya bagi saya pribadi…

NHA / Nur Hasan Ahmad (Dengan sedikit editan, insya Allah tanpa mengurangi hikmah kisah)

Senin, 02 Maret 2015

KISAH SECANGKIR KOPI II

Sejatinya, inilah penyakit yang diderita manusia. Banyak orang yang tidak bersyukur kepada Allah atas apa yang ia miliki, setinggi apapun kesuksesannya. Sebab ia selalu membandingkannya dengan apa yang dimiliki orang lain.

Setelah menikah dengan seorang wanita cantik yang berakhlak mulia, ia selalu berfikir bahwa orang lain menikah dengan wanita yang lebih istimewa dari istrinya.

Sudah tinggal di rumah sendiri, namun selalu membayangkan bahwa orang lain rumahnya lebih mewah dari rumah sendiri.

Ia bukannya menikmati kehidupannya beserta istri dan anak-anaknya. Tapi justru selalu memikirkan apa yang dimiliki orang lain, seraya berkata, “Aku belum punya apa yang mereka punya”.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,
"Barang siapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya dan memiliki makanan untuk hari itu, seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya". (HR. Tirmidzi).

Seorang bijak berpetuah,
“Alangkah anehnya kebanyakan manusia! Mereka korbankan kesehatan untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Setelah terkumpul, gantian mereka gunakan harta tersebut untuk mengembalikan kesehatannya yang telah hilang!

Mereka selalu gelisah memikirkan masa depan, namun melupakan hari ini. Akibatnya, mereka tidak menikmati hari ini dan tidak pula hidup di masa datang.

Mereka senantiasa melihat apa yang dimiliki orang lain, namun tidak pernah melihat apa yang dimilikinya sendiri. Akibatnya, ia tidak bisa meraih apa yang dimiliki orang lain dan tidak pula bisa menikmati milik sendiri.

Mereka diciptakan untuk satu tujuan, yakni beribadah. Dunia diciptakan untuk mereka gunakan sebagai sarana beribadah. Namun justru sarana tersebut malah melalaikan mereka dari tujuan utama”.

Maka, mari kita nikmati kopi kehidupan tersebut, apapun kondisi kita...

KISAH SECANGKIR KOPI

Suatu hari di sebuah universitas terkenal. Sekelompok alumnus bertamu di rumah dosen senior, setelah bertahun-tahun mereka lulus. Setelah mereka semua menggapai kesuksesan, kedudukan yang tinggi serta kemapanan ekonomi dan sosial.
Setelah saling menyapa dan berbasa basi, masing-masing mereka mulai mengeluhkan pekerjaannya. Jadwal yang begitu padat, tugas yang menumpuk dan banyak beban lainnya yang seringkali membuat mereka stress.

Sejenak sang dosen masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian, beliau keluar sambil membawa nampan di atasnya teko besar berisikan kopi dan berbagai jenis cangkir. Ada cangkir-cangkir keramik tiongkok yang mewah. Cangkir-cangkir kristal. Cangkir-cangkir melamin. Dan cangkir-cangkir plastik. Sebagian cangkir tersebut luar biasa indahnya. Ukirannya, warnanya dan harganya yang waahh. Namun ada juga cangkir plastik yang biasanya berada di rumah orang-orang yang amat miskin.

Sang dosen berkata, “Silahkan.. masing-masing menuangkan kopinya sendiri”.
Setelah setiap mahasiswa memegang cangkirnya, sang dosen berkata,
“Tidakkah kalian perhatikan bahwa hanya cangkir-cangkir mewah saja yang kalian pilih? Kalian enggan mengambil cangkir-cangkir yang biasa?

Manusiawi sebenarnya, saat masing-masing dari kalian berusaha mendapatkan yang paling istimewa. Namun seringkali itulah yang membuat kalian menjadi gelisah dan stress.
Sejatinya yang kalian butuhkan adalah kopi, bukan cangkirnya. Akan tetapi kalian tergiur dengan cangkir-cangkir yang mewah. Terus perhatikanlah, setelah masing-masing kalian memegang cangkir tersebut, kalian akan terus berusaha mencermati cangkir yang dipegang orang lain!. Andaikan kehidupan adalah kopi, maka pekerjaan, harta dan kedudukan sosial adalah cangkir-cangkirnya. Jadi, hal-hal itu hanyalah perkakas yang membungkus kehidupan. Adapun kehidupan (kopi) itu sendiri, ya tetap itu-itu saja, tidak berubah.

Saat konsentrasi kita tersedot kepada cangkir, maka saat itu pula kita akan kehilangan kesempatan untuk menikmati kopi.

Karena itu ku nasehatkan pada kalian, jangan terlalu memperhatikan cangkir, akan tetapi nikmatilah kopinya…

Minggu, 01 Maret 2015

MENYIKAPI MUSIBAH

Alhamdulillah! Segala puji hanya milik Alloh Swt. Hanya Alloh tempat kembali segala urusan. Hanya Alloh yang tempat memohon pertolongan. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada kekasih Alloh, baginda nabi Muhammad Saw.

Saudaraku, tentu saja kita sangat berharap hidup kita ini selalu ada dalam kemudahan, kelapangan, dan kebahagiaan. Tetapi ternyata kebahagiaan dan kegembiraan itu tidak selalu datang dari hal-hal yang kita sukai.

Mari kita simak firman Alloh Swt. di dalam Al Quran berikut ini,

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَىۡءٍ۬ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٍ۬ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٲلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٲتِ‌ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ (١٥٥) ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٌ۬ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٲجِعُونَ (١٥٦
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun”.”
(QS. Al Baqoroh [2] : 155-156)

Dalam ayat ini Alloh Swt. dengan sangat terang-benderang menjelaskan bahwa pasti akan datang ujian di dalam hidup kita. Tidak selamanya menyenangkan, kadang muncul juga kejadian yang tak mengenakan. Tidak selamanya menggembirakan, kadang muncul juga kejadian yang menyedihkan.
Akan tetapi, akan datang kebahagiaan yang sejati di balik semua ujian atau musibah itu. Kebahagiaan yang hanya datang kepada orang-orang yang bersabar.

Siapakah orang yang sabar itu? Alloh menjelaskan bahwa orang yang sabar adalah orang yang ketika ia ditimpa musibah, maka mulutnya, hatinya, sikapnya, kompak mengucapkan “Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun”.

Saudaraku, apa maksud dari kalimat ini? Kalimat ini artinya, “Sesungguhnya kami ini milik Alloh, dan hanya kepada Alloh kami akan kembali”. Maka kalimat ini menunjukkan bahwa ada dua kunci utama bagi orang yang ingin bersabar.

Pertama, hilangnya rasa memiliki. Kita yakin bahwa diri kita dan segala yang kita miliki adalah milik Alloh Swt.

Kedua, hilangnya tempat kembali, kecuali hanya Alloh Swt. satu-satunya tempat kembali. Hanya Alloh Swt. tempat kembalinya segala urusan. Dan, meyakini dengan sepenuh hati bahwa kita pasti akan kembali kepada Alloh Swt.

Semakin kita tidak merasa memiliki, kecuali bahwa yang kita miliki ini tiada lain adalah hanya titipan dari Alloh Swt. maka akan semakin ringan kita menjalani hidup ini. Akan semakin ringan kita menghadapi setiap musibah yang terjadi dalam hidup kita. Sebaliknya, jikalau semakin besar rasa memiliki dalam hati kita, maka akan semakin berat untuk bersabar.

Semakin kuat keyakinan kita bahwa hanya Alloh Swt. yang kuasa memberikan pertolongan, maka akan semakin tangguh kita menghadapi setiap musibah. Sebaliknya, semakin kita mencari penolong selain Alloh, maka akan semakin resah gelisah hati kita dan semakin jauh dari pertolongan Alloh.

Lisan mengucap “Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun” disertai keyakinan, itulah pangkal kebahagiaan yang hakiki. Hanya orang yang bersabar yang akan memperoleh pertolongan Alloh, dan hanya orang-orang yang bersabar yang akan mampu melewati setiap musibah dengan hati yang lapang. Sehingga hidupnya akan diliputi dengan ketenangan dan kebahagiaan. Sungguh, kita ini milik Alloh dan hanya kepada Alloh kita kita akan kembali. Semoga kita termasuk orang-orang yang sabar.[]

Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )

Kamis, 19 Februari 2015

JANGAN MELIHAT ORANG DARI PENAMPILAN LUARNYA SAJA

Dikisahkan bahwa suatu malam Sultan Murod Ar-Rabi` mengalami kegundahan yang sangat, dan dia tidak mengetahui sebabnya.
Maka Sang Sultan memanggil kepala penjaga/sipir dan memberitahukan tentang keadaannya yang sedang gundah,
dan memang merupakan kebiasaan Sultan bahwa dia sering memeriksa keadaan masyarakat/rakyatnya secara sembunyi-sembunyi.

Maka Sultan berkata kepada Kepala Sipir : Mari kita keluar, jalan-jalan diantara penduduk (guna memeriksa dan memantau keadaan mereka).

Mereka pun berjalan hingga sampailah di sebuah penghujung desa, dan Sultan melihat seorang pria tergeletak di atas tanah.
Sultan menggerak-gerakknnya (untuk memeriksa) dan ternyata pria tersebut telah tewas.
Namun anehnya orang-orang yang melintasi dan berlalu lalang di sekitarnya tidak memperdulikannya.

Maka Sultan pun memanggil mereka, tapi mereka tidak mengetahui Sang Sultan,
Mereka berseru : Ada apa?
Sultan : Kenapa pria ini tewas dan tidak seorangpun yang membawanya? Siapa dia? Dan dimana keluarganya?
Mereka berujar : Ini orang zindiq, suka minum khomar, pezina.
Sultan menimpali : Namun bukankah dia dari golongan umat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam? Ayo bawa dia ke rumah keluarganya.

Maka mereka pun membawanya.
Ketika sampai di rumah, istrinya pun melihatnya dan langsung menangis.
Dan orang-orang pun mulai beranjak pergi, kecuali Sang Sultan dan Kepala Sipir.

Di tengah tangisan si wanita (istri si mayit), dia berseru kepada Sultan (namun wanita tersebut tidak mengetahuinya) : Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah, aku bersaksi bahwa engkau sungguh wali Allah.

Maka terheranlah Sultan Murod dengan ucapan wanita tersebut, dan berkata : Bagaimana mungkin aku termasuk wali Allah sementara orang-orang berkata buruk terhadap si mayyit, hingga mereka enggan mengurusi mayatnya.
(Penjaga, Sultan merasa heran, bagaimana mungkin seorang zindiq ditolong oleh wali Allah)

Wanita pun menjawab : Aku sudah duga hal itu,
sungguh suamiku setiap malam pergi ke penjual arak/khomar lantas membeli seberapa banyak yang dia bisa beli, kemudian membawanya ke rumah kami dan menumpahkan seluruh khomar ke toilet, dan dia (suami) berkata : Semoga aku bisa meringankan keburukan khomar dari kaum muslimin.

Suamiku juga selalu pergi kepada para zaniah/pelacur dan memberinya uang, dan berkata : malam ini kau ku bayar dan jangan kau buka pintu rumahmu (untuk melacur) hingga pagi. Kemudian suamiku kembali ke rumah dan berujar : Alhamdulillah, semoga dengan itu aku bisa meringankan keburukannya ( pelacur) dari pemuda-pemuda muslim malam ini.

Namun sementara orang-orang menyaksikan dan mengetahui bahwa suamiku membeli khomar, dan masuk ke rumah pelacur, dan lantas mereka membicarakan suamiku dengan keburukan.

Pernah suatu hari aku berkata pada suamiku : Sungguh jika seandainya engkau mati, maka tidak akan ada orang yang akan memandikanmu, menyolatkanmu, dan menguburkanmu.

Suamiku pun tersenyum dan menjawab : Jangan khawatir Sayangku, Sultan/Pemimpin kaum muslimin lah yang akan menyolatkanku beserta para ulama dan pembesar-pembesar negeri lainnya.

(Setelah mendengarnya) Sultan pun menangis lantas berkata : Suamimu benar, demi Allah aku adalah Sultan Murod Ar-Robi`, Dan besok kami akan memandikan suamimu, menyolatkannya dan menguburkannya.

Dan diantara yang menyaksikan jenazahnya adalah Sultan Murod, para ulama, para masyayikh dan seluruh penduduk kota.
Maha Suci Allah, kita hanya bisa menilai orang dengan hanya melihat penampilan dan kulit luarnya dan kita pula hanya mendengar omongan orang.

Maka sendainya jika kita mampu bijak, kita akan memandang dan menilai orang dari kebersihan hatinya, Maka niscaya lisan kita akan kelu membisu dari menceritakan keburukan orang lain..

Subhanallaah…

Selasa, 17 Februari 2015

LUAR BIASANYA SHOLAT

Bila engkau anggap sholat itu hanya penggugur kewajiban, maka kau akan terburu-buru mengerjakannya.

Bila kau anggap sholat hanya sebuah kewajiban, maka kau tak akan menikmati hadirnya Allah saat kau mengerjakannya.

Anggaplah sholat itu pertemuan yang kau nanti dengan Tuhanmu.

Anggaplah sholat itu sebagai cara terbaik kau bercerita dengan Tuhanmu.

Anggaplah sholat itu sebagai kondisi terbaik untuk kau berkeluh kesah dengan Tuhanmu.

Anggaplah sholat itu sebagai seriusnya kamu dalam bermimpi.

Bayangkan ketika “adzan berkumandang”, tangan Allah melambai ke depanmu untuk mengajak kau lebih dekat dengan-Nya.

Bayangkan ketika kau “takbir”, Allah melihatmu, Allah tersenyum untukmu dan Allah bangga terhadapmu.

Bayangkanlah ketika kau “ruku’”, Allah menopang badanmu hingga kau tak terjatuh, hingga kau rasakan damai dalam sentuhan-Nya.

Bayangkan ketika “sujud”, Allah mengelus kepalamu. Lalu Dia berbisik lembut di kedua telingamu, “Aku Mencintaimu, hambaKu”

Bayangkan ketika kau “duduk diantara dua sujud”, Allah berdiri gagah di depanmu, lalu mengatakan, “Aku tak akan diam bila ada yang mengusikmu”

Bayangkan ketika kau “salam”, Allah menjawabnya, lalu kau seperti manusia berhati bersih setelah itu.

#BeraniBerhijrah

Sabtu, 24 Januari 2015

AKULAH LELAKI YANG SETIA

Apakah pernah sebentar saja Kamu meluangkan caramu memandangku. Adakah diluar sana lelaki yang lebih setia dari padaku?

Iya benar, dari padaku.
Perjalanan ceritanya memang telah usai, tapi tidak untuk dikepalaku. Sederatan cerita lama itu seolah membuat tubuh ini separuhnya mati. Barisan tawamu yg begitu tajam berikut caramu memotong pembicaraanku yg menguatkan, beserta sikap konyolmu masih tertata rapi diingatanku.

Tidakah Kamu mengira? Aku lelaki dan tak mengerti bagaimana caranya menangis. Tidakah Kamu menyangka? Aku lelaki sama seperti Mereka. Aku sama dan maka dari itu Aku butuh Kamu.

Sudah, sudahlah Aku. Tetapi memang belum waktunya untuk Aku berkata sudah.

Aku lelaki yang ditakdirkan untuk memperjuangkan? Sebagaimana seorang Ayah yang selalu membanting tulang dan keringatnya untuk anak dan juga istrinya dirumah. Aku lelaki yang setia? Manakala ada seorang perempuan lain mendatangiku. Lalu perempuan itu menanyakan bagaimana kabarku? Aku pun menjawab, "Jika kabarku pernah lebih baik dari saat ini". Sebab bagiku, sebaik-baiknya Aku ialah saat bersamamu seperti pada masa itu.

Ketahuilah, bahwa tanpa Aku mengerti bagaimana kabarmu sekarang. Itu bukan bermakna Aku tidak ingat terhadapmu, bukan karena Aku sudah tak setia. Namun justru kabar darimu akan semakin menguatkan ingatanku. Kabar darimu itu akan semakin menegaskan bahwa Akulah lelaki yang setia.

Kamis, 22 Januari 2015

KUMPULAN CERITA BAGIAN IV

Pagi itu Aku bangun lebih pagi dari biasanya. Setelah semalam sebelumnya Aku banyak berpikir tentangmu, tentang apa yang akan terjadi pada esok hari, yaitu hari ini. Kamar tidur berukuran kurang dari 4x4 meter, selimut merah bermotif bunga berwarna kuning, serta bantal yang tidak lagi empuk ialah saksi bisu selain mataku sendiri yang sulit terpejam karena memikirkanmu, memikirkan hari ini. Tak ubahnya anak kecil yang menangis histeris ditengah malam, dikarenakan haus akan air susu dari payudara milik Ibunya.

Pukul dua dini hari, seingat penglihatanku. Dimana sebagian orang sedang menikmati lelapnya malam, dimana para penggila bola sedang terbius menyaksikan pertandingan, dimana para penjual sayur sedang bersiap mencari barang dagangannya, dimana seekor ayam bersiap berkokok untuk menyambut kedatangan pagi, namun mataku masih berusaha untuk terlelap. Entah pada hitungan detik keberapa, mataku akhirnya tertidur tanpa pamit terlebih dahulu. Kamu tidak harus mengerti tentang ini, sebab mengerti saja takkan cukup membuatmu mengerti. Maka cukup Aku, mataku dan kepalaku saja yang mengerti, sedang Kamu, tidak.

Mentari pagi masih bersembunyi, bersamaan dengan suara adzan subuh yang terdengar di beberapa mushola disekitar tempat tinggalku. Setengah lima pagi, sekelebat saja mataku memejam. Pagi seakan menyuruhku untuk bangun, seolah-olah memukul kedua pipiku dengan keras, menyiramku dengan air dingin sedingin air es dalam kulkas hingga tak ada alasan lagi buatku untuk memanjangkan tidurku.

Bergegas Aku dari ranjang yang telah menemani tidurku sepanjang usiaku. Ranjang yang kata Ibu, Beliau dapat ketika Aku baru menginjak usia kurang dari satu tahun. Beliau sengaja membelinya saat Aku masih bayi, sebab hal itu Beliau lakukan sebagai nadzarnya telah dikarunia seorang anak laki-laki dari Tuhan.

Ku basuh wajahku dengan tetesan air wudhu yang keluar dari kran di depan kamar mandi rumahku. Segeralah Aku menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba Tuhan, ialah sholat.

Semenjak berusia enam tahun, Ibuku selalu menyuruhku untuk tidak melupakan sholat. Beliau selalu mengajarkan kepada anak-anaknya tentang betapa pentingnya sholat itu sendiri, melebihi kepentingan apapun. Sebab sholatlah yang akan melancarkan kepentingan Kita, apapun kepentingan itu.

Disubuh itu, Aku sengaja menengadahkan kedua tanganku untuk memohon agar kepentinganku dihari ini Tuhan pentingkan, yaitu kepentinganku tentangmu. Kepentinganmu yang melebihi kepentingan apapun. Apapun itu, Kamulah yang lebih penting, Kamulah yang terpenting melebihi kepentingan diriku sendiri.

Bersambung...

Rabu, 21 Januari 2015

AKU YANG MASIH MEMBUTUHKANMU, MENGERTILAH

Bagaimana kabarmu sekarang? Aku harap segala yang tentangmu selalu baik, sebaik Kamu dalam ingatanku.

Entah sudah berapa lama Kita tak saling berbagi kabar, rasa-rasanya takkan cukup bila kesepuluh jari tanganku menghitung berapakah jumlah rinduku yang terpendam selama ini. Apakah Kau juga sama demikian? Abaikan.

Apakah Kamu masih tetap sama seperti didetik itu? Masih sering menggosok gigi sebelum tidur? Atau masih suka memakai boxer hitam bergambar logo tim sepakbola? Itulah sedikit ingatan diantara ribuan ingatan tentangmu dikepalaku yang masih Aku ingat.

Aku pernah merasakan tempat yang paling bahagia didunia ini, yaitu dipelukanmu. Iya benar dipelukanmu. Disitulah Aku mendapatkan segala yang membuat langkah hidupku menjadi lebih ringan, seringan rindu yang tertiup oleh udara.

Kamis, 08 Januari 2015

KUMPULAN CERITA BAGIAN III

Apa yang Aku sebut awal ialah pada hari itu. Hari dimana pagi seolah datang dua jam lebih awal dari biasanya. Tak seperti hari-hari sebelumnya, ini lain dari yang kemarin-kemarin. Sebagaimana Yoshito Usui yang sengaja mengijinkan Nohara Shinnosuke bermain kelereng dengan Nobita dan Doraemon. Sedangkan Shizuka, Suneo dan Giant, sedang seru bermain petak umpet bersama Kazao, Nene Sakurada dan Masao Sato di halaman TK Aksi. Lalu, James Cameron yang lebih memilih Jack dan Rose untuk berlibur ke Paris, daripada harus tenggelam bersama Kapal Titanic ke dasar Samudera Atlantik. Sebegitukah? Iya memang sebegitunya. Tidak pernah Aku jumpai hari yang sebegitu bahagianya, seperti pada hari itu. Minggu, 1 Mei 2011 silam.

Iyah benar? Saat itu ialah tahun 2011. Tahun dimana Lee Hae Jin menikmati kesuksesan aplikasi Line untuk pertama kalinya. Tahun dimana film karya Harris Nizam berjudul Surat Kecil Untuk Tuhan diputar dibioskop seluruh Indonesia. Tahun dimana Pangeran William dan Kate Middleton menggelar pernikahan, tepatnya pada tanggal 29 April. Tahun dimana Simoncelli meninggal setelah mengalami kecelakaan serius di seri MotoGP Malaysia di Sirkuit Sepang, Kuala Lumpur. Dan tahun dimana Aku dan Kamu menjadi sepasang kekasih.

Masih ingatkah Kamu? Atau memang dengan sengaja telah lupa? Semoga saja tidak, Aku harap begitu, Aku harap demikian. Sebab dengan Kamu masih ingat hal kecil sekalipun dihari itu saja. Entah itu sekedar namaku, atau nama tempat dan juga hari, itu sudah cukup banyak alasan untuk Aku tersenyum.

Ada beberapa orang yang bilang cinta itu indah? Tapi bagiku, cinta itu indah, jika tak ada perpisahan, jika tak ada kebenciaan, jika tak ada rasa sakit hati, jika tak ada tetesan air mata, jika tak ada kehilangan, dan jika tak ada rindu yang dipendam. Cinta itu akan indah meski hanya cukup dengan ada, Aku dan Kamu.

Bersambung...

KUMPULAN CERITA BAGIAN II

Aku duduk tepat didepanmu, dipisahkan oleh meja berhiaskan taplak bermotif bunga-bunga kecil. Aku tak banyak memandang apa yang ada dalam ruang itu, tak cukup besar keberanianku berada pada situasi seperti ini.

Detak jantungku berjalan begitu cepat, secepat seorang murid yang harus menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut gurunya. Tanganku basah, keringat kebahagiaan dan keringat ketakutan bercampur menjadi satu dalam satu genggaman.

Tiba-tiba Kamu datang, mencoba mencairkan suasana yang terasa beku seperti gunung es di kutub utara. Segelas teh hangat yang Kamu sungguhkan, seolah seperti hujan deras yang menyegarkan kepalaku yang kering karena perasaan tegang. Aku lebih sering menundukkan kepala dan diam, sesekali senyum kecil keluar sebagai tanda bahwa Aku mengikuti perbincangan antara Kakakku, Ibumu dan juga Kamu.

Pertanyaan-pertanyaan ringan itu hanyalah sebagai jembatan untuk menuju ke jalur utama. Aku mengerti maksud dibaliknya, tapi tidak dengan Kamu. Kamu begitu menikmati pertanyaan-pertanyaan ringan itu, sebagaimana Kamu menikmati "Anugerah Terindah" dengan headset dikedua daun telingamu. Syukurlah, Aku masih memandangmu tersenyum. Tak sedikitpun Aku berpikir, Kamu marah padaku didetik itu.

Sebelum perbincangan itu tiba di jalur utama, Ibumu mempersilahkan Aku dan Kakakku untuk menyantap hidangan yang telah dipersiapkan. Sederhana memang, tapi memory meja makan itu selalu mengingatkan bahwa Aku pernah menyantap masakanmu. Ingin rasanya Aku mengulangi, mengulangi, mengulangi dan mengulanginya lagi.

Bersambung...

Jumat, 02 Januari 2015

KUMPULAN SAJAK DIAWAL JANUARI

"Jangan sebut Aku lelaki. Sebab dihadapanmu saja, Aku tidak bisa untuk tidak meneteskan airmata."

"Apakah Kau tahu, kenapa alas kaki itu selalu berpasangan? Sebab Mereka mengerti bahwa sendiri itu menakutkan."

"Ada kesamaan antara Kau dan udara. Sama-sama Aku butuh dan sama-sama tak dapat Aku lihat."

"Ada satu ketidakmungkinan yang sangat tidak mungkin, yaitu mengharapkan rindumu walau hanya seujung kuku anak kecil."

"Jika benar mengenalmu ialah awal mula sebelum menjadi sejati. Maka Aku rela hilang ingatan, yang berujung pada nafas terakhir."

"Bukan karena Kita pernah saling berbagi pelukan, lantas kepala ini selalu ingat. Tapi karena alasan Aku memelukmu itulah jawabnya."

"Lebih pantas disebut apakah Kita kemarin dan setidak mengenal apa Kita didetik ini. Itupun takkan membuatku berpikir bahwa Kau itu buruk."