Sabtu, 24 Januari 2015
AKULAH LELAKI YANG SETIA
Iya benar, dari padaku.
Perjalanan ceritanya memang telah usai, tapi tidak untuk dikepalaku. Sederatan cerita lama itu seolah membuat tubuh ini separuhnya mati. Barisan tawamu yg begitu tajam berikut caramu memotong pembicaraanku yg menguatkan, beserta sikap konyolmu masih tertata rapi diingatanku.
Tidakah Kamu mengira? Aku lelaki dan tak mengerti bagaimana caranya menangis. Tidakah Kamu menyangka? Aku lelaki sama seperti Mereka. Aku sama dan maka dari itu Aku butuh Kamu.
Sudah, sudahlah Aku. Tetapi memang belum waktunya untuk Aku berkata sudah.
Aku lelaki yang ditakdirkan untuk memperjuangkan? Sebagaimana seorang Ayah yang selalu membanting tulang dan keringatnya untuk anak dan juga istrinya dirumah. Aku lelaki yang setia? Manakala ada seorang perempuan lain mendatangiku. Lalu perempuan itu menanyakan bagaimana kabarku? Aku pun menjawab, "Jika kabarku pernah lebih baik dari saat ini". Sebab bagiku, sebaik-baiknya Aku ialah saat bersamamu seperti pada masa itu.
Ketahuilah, bahwa tanpa Aku mengerti bagaimana kabarmu sekarang. Itu bukan bermakna Aku tidak ingat terhadapmu, bukan karena Aku sudah tak setia. Namun justru kabar darimu akan semakin menguatkan ingatanku. Kabar darimu itu akan semakin menegaskan bahwa Akulah lelaki yang setia.
Kamis, 22 Januari 2015
KUMPULAN CERITA BAGIAN IV
Pukul dua dini hari, seingat penglihatanku. Dimana sebagian orang sedang menikmati lelapnya malam, dimana para penggila bola sedang terbius menyaksikan pertandingan, dimana para penjual sayur sedang bersiap mencari barang dagangannya, dimana seekor ayam bersiap berkokok untuk menyambut kedatangan pagi, namun mataku masih berusaha untuk terlelap. Entah pada hitungan detik keberapa, mataku akhirnya tertidur tanpa pamit terlebih dahulu. Kamu tidak harus mengerti tentang ini, sebab mengerti saja takkan cukup membuatmu mengerti. Maka cukup Aku, mataku dan kepalaku saja yang mengerti, sedang Kamu, tidak.
Mentari pagi masih bersembunyi, bersamaan dengan suara adzan subuh yang terdengar di beberapa mushola disekitar tempat tinggalku. Setengah lima pagi, sekelebat saja mataku memejam. Pagi seakan menyuruhku untuk bangun, seolah-olah memukul kedua pipiku dengan keras, menyiramku dengan air dingin sedingin air es dalam kulkas hingga tak ada alasan lagi buatku untuk memanjangkan tidurku.
Bergegas Aku dari ranjang yang telah menemani tidurku sepanjang usiaku. Ranjang yang kata Ibu, Beliau dapat ketika Aku baru menginjak usia kurang dari satu tahun. Beliau sengaja membelinya saat Aku masih bayi, sebab hal itu Beliau lakukan sebagai nadzarnya telah dikarunia seorang anak laki-laki dari Tuhan.
Ku basuh wajahku dengan tetesan air wudhu yang keluar dari kran di depan kamar mandi rumahku. Segeralah Aku menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba Tuhan, ialah sholat.
Semenjak berusia enam tahun, Ibuku selalu menyuruhku untuk tidak melupakan sholat. Beliau selalu mengajarkan kepada anak-anaknya tentang betapa pentingnya sholat itu sendiri, melebihi kepentingan apapun. Sebab sholatlah yang akan melancarkan kepentingan Kita, apapun kepentingan itu.
Disubuh itu, Aku sengaja menengadahkan kedua tanganku untuk memohon agar kepentinganku dihari ini Tuhan pentingkan, yaitu kepentinganku tentangmu. Kepentinganmu yang melebihi kepentingan apapun. Apapun itu, Kamulah yang lebih penting, Kamulah yang terpenting melebihi kepentingan diriku sendiri.
Bersambung...
Rabu, 21 Januari 2015
AKU YANG MASIH MEMBUTUHKANMU, MENGERTILAH
Bagaimana kabarmu sekarang? Aku harap segala yang tentangmu selalu baik, sebaik Kamu dalam ingatanku.
Entah sudah berapa lama Kita tak saling berbagi kabar, rasa-rasanya takkan cukup bila kesepuluh jari tanganku menghitung berapakah jumlah rinduku yang terpendam selama ini. Apakah Kau juga sama demikian? Abaikan.
Apakah Kamu masih tetap sama seperti didetik itu? Masih sering menggosok gigi sebelum tidur? Atau masih suka memakai boxer hitam bergambar logo tim sepakbola? Itulah sedikit ingatan diantara ribuan ingatan tentangmu dikepalaku yang masih Aku ingat.
Aku pernah merasakan tempat yang paling bahagia didunia ini, yaitu dipelukanmu. Iya benar dipelukanmu. Disitulah Aku mendapatkan segala yang membuat langkah hidupku menjadi lebih ringan, seringan rindu yang tertiup oleh udara.
Kamis, 08 Januari 2015
KUMPULAN CERITA BAGIAN III
Iyah benar? Saat itu ialah tahun 2011. Tahun dimana Lee Hae Jin menikmati kesuksesan aplikasi Line untuk pertama kalinya. Tahun dimana film karya Harris Nizam berjudul Surat Kecil Untuk Tuhan diputar dibioskop seluruh Indonesia. Tahun dimana Pangeran William dan Kate Middleton menggelar pernikahan, tepatnya pada tanggal 29 April. Tahun dimana Simoncelli meninggal setelah mengalami kecelakaan serius di seri MotoGP Malaysia di Sirkuit Sepang, Kuala Lumpur. Dan tahun dimana Aku dan Kamu menjadi sepasang kekasih.
Masih ingatkah Kamu? Atau memang dengan sengaja telah lupa? Semoga saja tidak, Aku harap begitu, Aku harap demikian. Sebab dengan Kamu masih ingat hal kecil sekalipun dihari itu saja. Entah itu sekedar namaku, atau nama tempat dan juga hari, itu sudah cukup banyak alasan untuk Aku tersenyum.
Ada beberapa orang yang bilang cinta itu indah? Tapi bagiku, cinta itu indah, jika tak ada perpisahan, jika tak ada kebenciaan, jika tak ada rasa sakit hati, jika tak ada tetesan air mata, jika tak ada kehilangan, dan jika tak ada rindu yang dipendam. Cinta itu akan indah meski hanya cukup dengan ada, Aku dan Kamu.
Bersambung...
KUMPULAN CERITA BAGIAN II
Detak jantungku berjalan begitu cepat, secepat seorang murid yang harus menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut gurunya. Tanganku basah, keringat kebahagiaan dan keringat ketakutan bercampur menjadi satu dalam satu genggaman.
Tiba-tiba Kamu datang, mencoba mencairkan suasana yang terasa beku seperti gunung es di kutub utara. Segelas teh hangat yang Kamu sungguhkan, seolah seperti hujan deras yang menyegarkan kepalaku yang kering karena perasaan tegang. Aku lebih sering menundukkan kepala dan diam, sesekali senyum kecil keluar sebagai tanda bahwa Aku mengikuti perbincangan antara Kakakku, Ibumu dan juga Kamu.
Pertanyaan-pertanyaan ringan itu hanyalah sebagai jembatan untuk menuju ke jalur utama. Aku mengerti maksud dibaliknya, tapi tidak dengan Kamu. Kamu begitu menikmati pertanyaan-pertanyaan ringan itu, sebagaimana Kamu menikmati "Anugerah Terindah" dengan headset dikedua daun telingamu. Syukurlah, Aku masih memandangmu tersenyum. Tak sedikitpun Aku berpikir, Kamu marah padaku didetik itu.
Sebelum perbincangan itu tiba di jalur utama, Ibumu mempersilahkan Aku dan Kakakku untuk menyantap hidangan yang telah dipersiapkan. Sederhana memang, tapi memory meja makan itu selalu mengingatkan bahwa Aku pernah menyantap masakanmu. Ingin rasanya Aku mengulangi, mengulangi, mengulangi dan mengulanginya lagi.
Bersambung...
Jumat, 02 Januari 2015
KUMPULAN SAJAK DIAWAL JANUARI
"Jangan sebut Aku lelaki. Sebab dihadapanmu saja, Aku tidak bisa untuk tidak meneteskan airmata."
"Apakah Kau tahu, kenapa alas kaki itu selalu berpasangan? Sebab Mereka mengerti bahwa sendiri itu menakutkan."
"Ada kesamaan antara Kau dan udara. Sama-sama Aku butuh dan sama-sama tak dapat Aku lihat."
"Ada satu ketidakmungkinan yang sangat tidak mungkin, yaitu mengharapkan rindumu walau hanya seujung kuku anak kecil."
"Jika benar mengenalmu ialah awal mula sebelum menjadi sejati. Maka Aku rela hilang ingatan, yang berujung pada nafas terakhir."
"Bukan karena Kita pernah saling berbagi pelukan, lantas kepala ini selalu ingat. Tapi karena alasan Aku memelukmu itulah jawabnya."
"Lebih pantas disebut apakah Kita kemarin dan setidak mengenal apa Kita didetik ini. Itupun takkan membuatku berpikir bahwa Kau itu buruk."