Apakah pernah sebentar saja Kamu meluangkan caramu memandangku. Adakah diluar sana lelaki yang lebih setia dari padaku?
Iya benar, dari padaku.
Perjalanan ceritanya memang telah usai, tapi tidak untuk dikepalaku.
Sederatan cerita lama itu seolah membuat tubuh ini separuhnya mati.
Barisan tawamu yg begitu tajam berikut caramu memotong pembicaraanku yg menguatkan, beserta sikap konyolmu masih tertata rapi diingatanku.
Tidakah Kamu mengira? Aku lelaki dan tak mengerti bagaimana caranya
menangis. Tidakah Kamu menyangka? Aku lelaki sama seperti Mereka. Aku
sama dan maka dari itu Aku butuh Kamu.
Sudah, sudahlah Aku. Tetapi memang belum waktunya untuk Aku berkata sudah.
Aku lelaki yang ditakdirkan untuk memperjuangkan? Sebagaimana
seorang Ayah yang selalu membanting tulang dan keringatnya untuk anak
dan juga istrinya dirumah. Aku lelaki yang setia? Manakala ada seorang
perempuan lain mendatangiku. Lalu perempuan itu menanyakan bagaimana
kabarku? Aku pun menjawab, "Jika kabarku pernah lebih baik dari saat
ini". Sebab bagiku, sebaik-baiknya Aku ialah saat bersamamu seperti pada
masa itu.
Ketahuilah, bahwa tanpa Aku mengerti bagaimana kabarmu sekarang. Itu
bukan bermakna Aku tidak ingat terhadapmu, bukan karena Aku sudah tak
setia. Namun justru kabar darimu akan semakin menguatkan ingatanku.
Kabar darimu itu akan semakin menegaskan bahwa Akulah lelaki yang setia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar