Aku duduk tepat didepanmu, dipisahkan oleh meja berhiaskan taplak bermotif bunga-bunga kecil. Aku tak banyak memandang apa yang ada dalam ruang itu, tak cukup besar keberanianku berada pada situasi seperti ini.
Detak jantungku berjalan begitu cepat, secepat seorang murid yang harus menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut gurunya. Tanganku basah, keringat kebahagiaan dan keringat ketakutan bercampur menjadi satu dalam satu genggaman.
Tiba-tiba Kamu datang, mencoba mencairkan suasana yang terasa beku seperti gunung es di kutub utara. Segelas teh hangat yang Kamu sungguhkan, seolah seperti hujan deras yang menyegarkan kepalaku yang kering karena perasaan tegang. Aku lebih sering menundukkan kepala dan diam, sesekali senyum kecil keluar sebagai tanda bahwa Aku mengikuti perbincangan antara Kakakku, Ibumu dan juga Kamu.
Pertanyaan-pertanyaan ringan itu hanyalah sebagai jembatan untuk menuju ke jalur utama. Aku mengerti maksud dibaliknya, tapi tidak dengan Kamu. Kamu begitu menikmati pertanyaan-pertanyaan ringan itu, sebagaimana Kamu menikmati "Anugerah Terindah" dengan headset dikedua daun telingamu. Syukurlah, Aku masih memandangmu tersenyum. Tak sedikitpun Aku berpikir, Kamu marah padaku didetik itu.
Sebelum perbincangan itu tiba di jalur utama, Ibumu mempersilahkan Aku dan Kakakku untuk menyantap hidangan yang telah dipersiapkan. Sederhana memang, tapi memory meja makan itu selalu mengingatkan bahwa Aku pernah menyantap masakanmu. Ingin rasanya Aku mengulangi, mengulangi, mengulangi dan mengulanginya lagi.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar