Senin, 29 Desember 2014

RUANG RINDUKU

Di ruang ini, Kita pernah ciptakan kenangan yang kemudian menjadi ingatan.

Inilah ruang rinduku. Dimana pada setiap detik yang bergerak, perilakumu selalu tinggal.

Inilah ruang rinduku. Dimana pada cermin itulah, seluruhmu pernah terekam oleh mataku.

Inilah ruang rinduku. Dimana dinding-dinding yang tak bersuara ini, sekarang sering meneriakkan namamu.

Inilah ruang rinduku. Segala yang tentangmu, ada dan tanpa selalu sama.


RINDU HUJAN

Seperti halnya hujan yang datang lebih pagi, rindu ini datang lebih awal dari biasanya.

Ada kesamaan antara Kamu dan hujan deras, sama-sama enak jika dibuat tidur.

Hujan tidak hanya tentang gerimis yang turun dari langit, tapi juga tentang rindu yang jatuh karena kenangan.

Sehujan denganmu seperti tidur berselimut kabut, lalu berakhir dengan mimpi basah.

Selalu jika ada hujan pasti tersimpan ingatan tentangmu. Sebab disetiap tetesannya, Kau selalu bersembunyi.

Minggu, 28 Desember 2014

KUMPULAN CERITA BAGIAN I

Ada satu rahasia tentangnya, yang sampai hari ini belum Ia ketahui. Bagaikan seekor Iguana yang bersembunyi diantara hijaunya daun mangga, agar tidak terlihat oleh mata anak kecil yang bersiap memukulnya dengan ketapel.

Ini rahasia tentangmu, yang menjadi penyebab kenapa akhirnya Kamu marah dan membenciku dengan sangat.

Sore itu, Aku datang ke rumahmu dengan tiba-tiba tanpa memberitahumu terlebih dahulu. Aku tidak datang sendiri, bersama Kakak pertamaku, Aku berhasil membuatmu kaget. Ini ialah untuk pertama kalinya Aku berkunjung, mungkin juga yang terakhir kalinya pula. Dari matamu, seolah ada simbol-simbol yang sulit untuk diterjemahkan, antara rasa senang dan takut bercampur aduk.

Aku paham betul dengan apa yang ada di seisi kepalamu, meski cukup dengan memandangmu sekilas. Aku bukan paranormal, bukan dukun, bukan peramal, atau apapun namanya. Mungkin karena Kita terlalu sedemikian dekatnya, hingga lewat bahasa tubuh saja, Aku mengerti.

Sebagai yang pertama kalinya, seharusnya Aku merasa asing dengan keadaan rumahmu. Tapi entah kenapa tidak demikian, begitu sangat nyaman Aku dibuatnya. Seolah-olah telah berkali-kali Aku berada di tempat itu. Kursi sofa berwarna sedikit gelap, dinding-dinding yang dihiasi dengan sedikit kerutan serta beberapa kaca jendela itu menyapaku dengan santun.

Tibalah saatnya Aku berjabat tangan dengan seorang perempuan paruh baya, yang pastinya itu ialah Ibumu. Pertama kali Aku melihatnya, Aku seolah melihatmu pada duapuluh tahun kemudian. Kamu begitu mirip dengannya, lebih tepatnya ialah sama. Sama-sama sederhana, sama-sama natural dan sama-sama wanita yang keibuan. Dengan memakai jilbab yang tanpa kesiapan, baju yang seadanya, dibalut tutur sapa yang lembut membuatku kagum, sekagum seorang anak kepada kedua orangtuanya. Jika Aku harus menghitung dengan jari kanan, entah sudah berapa senyum yang keluar dari Ibumu, mengagumkan. Tidaklah salah jika Beliau memiliki putri yang seluar biasa Kamu.

Bersambung...

Sabtu, 27 Desember 2014

INI MASIH TENTANGMU

Di kesempatan ini, Aku masih menulis segala ingatan yang masih tentangmu. Dan semoga, ketika kelak ini sampai dihadapanmu, Kau tak melewatkannya begitu saja.

Bagaimana kabarmu sekarang? Semoga segala yang baik selalu bersama ceritamu. Sekalipun disini, Aku jauh dari kata baik. Sebab sepeninggalanmu, Aku tak pernah merasakan itu. Sebaik-baiknya Aku ialah saat bersama dan didekatmu, itu saja.

Seperti apakah Kau sekarang? Semakin lebih sederhanakah atau semakin luar biasa hebat? Masih sehijau daun pandankah? Atau sudah menjadi sekekuning warna janur?

Tak peduli seperti apakah Kau sekarang, Aku tetap merindumu, tetap menyimpan segala ingatan tentangmu. Aku harap Kau mengerti, dan sama denganku. Meski sepertinya itu mustahil untuk terjadi, Aku tetap berharap demikianlah.

Mencintaimu tidak harus dengan menghalalkan segala cara, tapi mencintaimu haruslah dengan cara yang halal. Seperti dengan mencintai tanpa memilikimu ialah salah satu diantaranya.

Ada seorang perempuan tua menyapaku, lalu sedikit bercerita tentang kabarmu yang telah lama tanpa kabarku. Aku hanya sanggup tersenyum kecil, sekecil noda hitam pada kaos pemberianmu itu. Walaupun sebenarnya, hati ini sangatlah gundah gulana. Tak mengerti harus berkata apa dan bagaimana.

Apakah Kau masih ingat siapakah perempuan tua itu? Perempuan yang tak pernah lepas dari daster bermotif batik dan bunga. Beliau ialah pemilik rumah dimana Kau sempat tinggal dulu, yang Kau panggil dengan sebutan nenek.

Tak terasa menulis sesingkat ini saja, sudah banyak membuat ingatan ini meneteskan banyak airmata. Hingga pandanganku menjadi kabur, sekabur kaca jendela kamarku yang penuh dengan embun kenangan tentangmu.

Terima kasih atas segala cerita yang pernah Kita bagi berdua. Semoga masing-masing dari Kita akan terus menyimpannya, dan tak akan membaginya dengan orang selain Kita sampai maut menjemputnya. Aamiin.

SEREPOTNYA JATUH CINTA

Serepot-repotnya jatuh cinta ialah jatuh cinta pada kesendirian.

SEBAGIAN SAJAK

Ada rindu yang tak bisa dijelaskan dengan alasan. Ada ingatan yang bukan dari dalam kepala.

Di warung ini, dan di tempat itu. Kita pernah duduk sebangku beradu tawa dan juga rindu.

Di taman ini, dan di sudut sana. Kita pernah duduk berdampingan saling menyatukan lengan masing-masing, lenganku untukmu dan lenganmu untukku.

Itulah rindu, rinduku yang jatuh bersama dengan hujan yang tak lagi bersamamu.

BUKAN SAJAK

Kepada kata Aku suka. Sebagaimana semut kepada gula, juga demikianlah.

Jumat, 26 Desember 2014

BERSAMA HUJAN

Hujan, hujan itu tidak hanya sekedar tetesan air yang jatuh dari langit membasahi apapun yang ada bersamanya. Hujan menyimpan banyak cerita, kisah, dongeng maupun hal sepele yang terlanjur bersamanya. Bersama hujan, seperti halnya Kau.

Masih perihal hujan, bukan tentang kapan hujan akan reda. Melainkan bagaimana bermain bersamanya. Hujan itu menyenangkan, bukan menakutkan. Kau takut? Aku tidak. Sebab bersama hujanlah, ingatan ini semakin mengingatkan segala yang tentangmu.

Tentang merahnya pelindung kepala itu, tentang kebiasaanmu yang tak lupa menggosok gigi sebelum terlelap, dan tentang hal kecil yang sering hilang hingga Kau dibuatnya menangis. Sebagaimana kumpulan alfabet yang harus dibaca berurutan. Dimulai dari huruf A, B, C, D, E, F hingga sampai Z. Semisal itulah, Kau diseluruh ingatanku tak berkurang sekecilpun.

Terkadang, hujan menjadikan mendung sebagai alasan untuk Ia datang. Tapi tidak denganmu, Kau datang mengingatkan ingatanku seenaknya saja. Tak peduli apakah sedang hujan gerimis, hujan panas, hujan deras, hujan angin dan kapanpun itu, Kau terus mengingatkan ingatanku.

Barangkali, Kita lebih tepat disebut sepasang ingatan yang saling berbagi ingatan, bersama turunnya hujan.

Kamis, 25 Desember 2014

TELAPAK TANGANKU

Sungguh, Aku ingin ada Kamu digaris telapak tanganku. Sebab kata mitos terdahulu, di tempat itulah jodoh diselipkan oleh Tuhan.

BERBAIT TENTANG KAU

Disenyumanmu, ada manis yang lebih dari kalimat hiperbola sekalipun.

Dipelukanmu, ada tenang yang lebih dari sebuah kesimpulan akhir alinea.

Didekapanmu, ada indah yang lebih dari bait pertama cerita pendek.

Diingatanmu, ada makna yang lebih dari gagasan pokok berupa ungkapan atau idiom.

Disegalamu, ada maksud yang lebih dari kiasan puisi sendu untuk Tuhan.

Selasa, 23 Desember 2014

KAU, MASA TUAKU

Kau bilang pria itu jahat. Pria itu tidak jahat, hanya saja Kau yang salah pilih. Aku pria yang tak Kau pilih ini, bersedia menunggumu hingga Kau disebut nenek.

Kau bilang lelaki itu pengecut. Lelaki itu bukan pengecut, hanya saja Kau yang telah mengabaikan. Aku lelaki yang Kau abaikan ini, bersedia mengantarmu ke pelaminannya sekalipun.

Kau bilang pria itu rusak. Pria itu tidak rusak, hanya saja Kau yang terlalu diam. Aku pria yang diam ini, bersedia menenangkanmu dalam sepinya masa tuamu.

Kau bilang lelaki itu pembohong. Lelaki itu bukan pembohong, hanya saja Kau yang terlanjur jujur. Aku lelaki yang jujur ini, bersedia meyakinkanmu dalam lengan yang penuh dengan kerutan.

Kau ialah masa tuaku, darimu Aku hanya inginkan satu hal kecil saja. Sekecil kutu dalam seekor semut barangkali.

Aku ingin ditelapak kakimu ada surga untuk anak-anak Kita, itu saja sayang. Sederhana, bukan?

SEHARI lBU

Teruntuk, Ibuku.

Hari ini, Selasa 23 Desember 2014. Tidak seperti hari selasa sebelumnya, ini sedikit berbeda dan lain.

Apa yang membuatnya tampak berbeda?
Apa yang membuatnya tampak lain?

Sehari kemarin ialah hari Ibu, itulah yang membuatnya berbeda. Ada satu perbedaan yang lainnya, adalah bukan kemarin Aku menulis tentang hari Ibu ini. Melainkan sekarang, yaitu hari selasa.

Sebagai seorang anak, tentunya Ibu adalah segalanya. Beliau bukan hanya seorang perempuan tua yang sering mengenakan daster berbunga-bunga dikesehariannya. Namun juga seorang malaikat yang sengaja ditakdirkan Tuhan untuk memberikan kasih kepada anak-anaknya.

Aku bangga memiliki Ibu yang seperti Ibuku. Aku bahagia menjadi anak dari Ibu yang seperti Ibuku.

Dikedua mataku dan diseisi kepalaku, Beliau luar biasa hebat. Jika Aku boleh meminjam seluruh Ibu jari orang-orang disekitarku, rasa-rasanya takkan cukup untuk menggambarkan betapa luar biasanya Beliau selama perjalanan hidupku.

Ibu, meski kemarin anak lelakimu ini hanya bisa memberikan sepotong es krim magnum rasa coklat. Semoga saja hal itu mampu menciptakan senyum dihatimu yang sering kering karena memikirkan Kami, anak-anakmu.

Ibu, I love You and I will always love You, because You are My everythings.

Dari anak lelakimu : Djani Abimanyu.

Minggu, 21 Desember 2014

TUHAN BERSAMA KESENDIRIAN

Tak ada perjalanan yang tak berpulang, tak ada dongeng yang tak berakhiran dan tak ada jembatan yang tak berujung. Sama halnya dengan cinta. Pulangnya ialah kesendirian, akhirannya ialah kesendirian dan ujungnya juga ialah kesendirian.

Kesendirian itu tidak datang sendiri, bersama kerumunan kerabatnya. Ia merumuni siapapun yang sudah ditakdirkan tanpa terkecuali. Kerabatnya itu ialah perpisahan, kesedihan, tangisan, jeritan, kekecewaan, ingatan, lamunan, penyesalan, kesepian, penantian dan segala yang ada di kepala orang-orang yang ditakdirkan untuk mengulum kesendirian.

Kesendirian itu memang berat, seberat perjalanan menuju Everest yang harus melewati 108 kelokan, seberat musim panas di Kota Ahvas, Iran. Tapi setidaknya, dengan kesendirian yang demikian berat, Tuhan selalu bersama kesendirian itu sendiri. Bersama didalam do'a, bersama diatas sajadah, bersama didalam rumah ibadah dan bersama dimanapun kesendirian itu berada, Tuhan selalu ada bersamanya.

INI TENTANG PILIHAN

Pilihan itu selalu tidak gampang, tak segampang menghitung jumlah gerimis yang turun bersama hujan. Lalu membasahi seluruh kaca jendela dalam ruang ingatanku. Bergegas Aku mendekat, tanpa harus menunggu perintah, segeralah ku goreskan jari telunjuk ini pada separuh dari kaca jendela tersebut. Kemudian dijadikannya satu nama yang tidak asing lagi, yaitu Kamu. Sedangkan separuhnya lagi ialah namaku. Iyah benar? Namamu dan namaku menyatu dalam ingatanku.

Selalu yang dicari manusia ialah kebahagiaan, biarpun dengan cara memaksa atau tidak. Seringkali kebahagiaan itu harus didapat dengan pengorbanan lebih, serta resiko yang tidak sembarangan. Kebahagian yang nyata bagiku, ialah saat Aku Habibie dan Kamu Ainun, perempuan yang begitu dicintainya. Kenapa meski demikian? Sebab Kamu tidak hanya datang, namun juga tinggal, lalu menjadi tunggal dan menetap disana, dalam ruang hati ini.

Aku pernah sakit, sesakit melihatmu bersama lelaki lain pada suatu ketika. Apalah daya, tangan ini tak sanggup memukul jatuh dan membawamu kembali kepelukan. Jadilah air mata sebagai jawaban dari peristiwa luar biasa ditengah hari itu. Tepat sehari sebelum Aku pergi, sekumpulan masa lalu tak berbusana mengejarku, hingga menelanjangiku tanpa sehelai benangpun. Sebelum ceritanya menjadi ending yang sempurna diatas batu nisanku. Inilah pilihanku yg tak segampang pilihanmu.

Sabtu, 20 Desember 2014

HARUS TANPA CACAT

Aku benci jatuh cinta. Segala yang Aku ucapkan, segala yang Aku katakan, dan segala yang Aku tuliskan untuk kamu itu menjadi penting. Seperti harus tanpa cacat, atau kalau tidak demikian? Aku bisa jadi akan kehilangan Kamu.

Aku benci jika harus tanpamu? Aku benci jika harus kehilanganmu? Tapi, takdir tak bisa Aku tawar lagi. Kamu pergi dan Aku sendiri!

SAJAK PENDEK

Bahkan untuk tersenyum kecil saja, Aku harus menunggu bertahun-tahun hingga para Atheis membicarakan tentang Ketuhanan!

AKU SUDAH TIDAK LAGI ADA

Ketika waktu telah membawa hati menjadi masing-masing. Rasa sangat ingin pun takkan cukup untuk mengulangkan semuanya. Seperti hujan yg tak mungkin turun dari bawah, demikianlah Kita sekarang.

Dulu, Kamu sering bertanya tentang kesetiaan? Dan bagiku, sebaik-baiknya kesetiaan itu ialah saat Aku tanpamu, tapi hatiku selalu ingat. Kamu bisa saja bersembunyi dibalik banyak wanita lain. Namun, Aku tak kunjung mendapati dirimu yg sebenarnya. Apakah iya? Aku sudah tidak lagi ada, diingatanmu.

Seringkali, telingaku mendengar tajamnya lidah berkata. Kesetiaan itu sama dengan memilih diri untuk menjadi tidak waras. Justru karenanya, Aku dijadikannya menikmati ketidakwarasan disetiap detik yg bergerak.

Semakin lama detik bergerak tanpamu, semakin jelas tentangmu dikepalaku. Aku mencoba mengepalkan tangan ini, kemudian Aku pukulkan dg keras ke arah dinding yg tak berdosa itu. Bukannya jiwa terasa tenang, justru wajahmu terus menertawakanku tiada terhenti.

Menyerahlah Aku sekarang, menyerah sudah. Sebab semampunya untuk melupakan ingatanmu saja, Aku tak sanggup. Dan akhirnya, pada nama itulah Aku ingin terus hidup, meski ragamu tak lagi sudi untuk bersamaku hingga kelak.

Karya : Djani Abimanyu.

BUKAN KARENA AKU

Bukan karena Aku takut? Melainkan Aku tak seberani dunia yang sanggup melihatmu bersama lelaki lain.

Bukan karena Aku pengecut? Namun Aku tak setangguh malam yang mampu melewatinya tanpamu.

Bukan karena Aku bodoh? Melainkan Aku tak sepandai pagi yang bisa Kau bohongi.

Bukan karena Aku hina? Namun Aku tak sesuci seperangat alat sholat yang tak harus selalu Kau kenakan.

Bukan karena Aku rusak? Melainkan Aku tak sebaik hakim yang tak perlu Kau perhatikan.

Bukan karena Aku rugi? Namun Aku tak seberuntung waktu yang rela menemani tiap detikmu.

Bukan karena Aku lupa? Melainkan Aku tak seingat alarm yang terus mengingatkanmu.

Bukan karena Aku ganjil? Namun Aku tak segenap uang yang bangga dalam sentuhanmu.

Bukan karena Aku gila? Melainkan Aku tak sewajar hujan yang turun membasahkan ujung rokmu.

Bukan karena Aku pasif? Namun Aku tak seaktif ponsel yang sulit untuk tidak Kau tengok.

Bukan karena Aku, Kau hidup. Bukan karena Kau, Aku mati.
Tapi bagiku, Kau ialah kehidupan.

Begitulah saja, titik!

Minggu, 1 Mei 2011 Bagian II

Pagi itu Aku bangun lebih pagi dari biasanya. Setelah semalam sebelumnya Aku banyak berpikir tentangmu, tentang apa yang akan terjadi pada esok hari, yaitu hari ini. Kamar tidur berukuran kurang dari 4x4 meter, selimut merah bermotif bunga berwarna kuning, serta bantal yang tidak lagi empuk ialah saksi bisu selain mataku sendiri yang sulit terpejam karena memikirkanmu, memikirkan hari ini. Tak ubahnya anak kecil yang menangis histeris ditengah malam, dikarenakan haus akan air susu dari payudara milik Ibunya.

Pukul dua dini hari, seingat penglihatanku. Dimana sebagian orang sedang menikmati lelapnya malam, dimana para penggila bola sedang terbius menyaksikan pertandingan, dimana para penjual sayur sedang bersiap mencari barang dagangannya, dimana seekor ayam bersiap berkokok untuk menyambut kedatangan pagi, namun mataku masih berusaha untuk terlelap. Entah pada hitungan detik keberapa, mataku akhirnya tertidur tanpa pamit terlebih dahulu. Kamu tidak harus mengerti tentang ini, sebab mengerti saja takkan cukup membuatmu mengerti. Maka cukup Aku, mataku dan kepalaku saja yang mengerti, sedang Kamu, tidak.

Mentari pagi masih bersembunyi, bersamaan dengan suara adzan subuh yang terdengar di beberapa mushola disekitar tempat tinggalku. Setengah lima pagi, sekelebat saja mataku memejam. Pagi seakan menyuruhku untuk bangun, seolah-olah memukul kedua pipiku dengan keras, menyiramku dengan air dingin sedingin air es dalam kulkas hingga tak ada alasan lagi buatku untuk memanjangkan tidurku.

Bergegas Aku dari ranjang yang telah menemani tidurku sepanjang usiaku. Ranjang yang kata Ibu, Beliau dapat ketika Aku baru menginjak usia kurang dari satu tahun. Beliau sengaja membelinya saat Aku masih bayi, sebab hal itu Beliau lakukan sebagai nadzarnya telah dikarunia seorang anak laki-laki dari Tuhan.

Ku basuh wajahku dengan tetesan air wudhu yang keluar dari kran di depan kamar mandi rumahku. Segeralah Aku menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba Tuhan, ialah sholat.

Semenjak berusia enam tahun, Ibuku selalu menyuruhku untuk tidak melupakan sholat. Beliau selalu mengajarkan kepada anak-anaknya tentang betapa pentingnya sholat itu sendiri, melebihi kepentingan apapun. Sebab sholatlah yang akan melancarkan kepentingan Kita, apapun kepentingan itu.

Disubuh itu, Aku sengaja menengadahkan kedua tanganku untuk memohon agar kepentinganku dihari ini Tuhan pentingkan, yaitu kepentinganku tentangmu. Kepentinganmu yang melebihi kepentingan apapun. Apapun itu, Kamulah yang lebih penting, Kamulah yang terpenting melebihi kepentingan diriku sendiri.

Bersambung...

Minggu, 1 Mei 2011

Apa yang Aku sebut awal ialah pada hari itu. Hari dimana pagi seolah datang dua jam lebih awal dari biasanya. Tak seperti hari-hari sebelumnya, ini lain dari yang kemarin-kemarin. Sebagaimana Yoshito Usui yang sengaja mengijinkan Nohara Shinnosuke bermain kelereng dengan Nobita dan Doraemon. Sedangkan Shizuka, Suneo dan Giant, sedang seru bermain petak umpet bersama Kazao, Nene Sakurada dan Masao Sato di halaman TK Aksi. Lalu, James Cameron yang lebih memilih Jack dan Rose untuk berlibur ke Paris, daripada harus tenggelam bersama Kapal Titanic ke dasar Samudera Atlantik. Sebegitukah? Iya memang sebegitunya. Tidak pernah Aku jumpai hari yang sebegitu bahagianya, seperti pada hari itu. Minggu, 1 Mei 2011 silam.

Iyah benar? Saat itu ialah tahun 2011. Tahun dimana Lee Hae Jin menikmati kesuksesan aplikasi Line untuk pertama kalinya. Tahun dimana film karya Harris Nizam berjudul Surat Kecil Untuk Tuhan diputar dibioskop seluruh Indonesia. Tahun dimana Pangeran William dan Kate Middleton menggelar pernikahan, tepatnya pada tanggal 29 April. Tahun dimana Simoncelli meninggal setelah mengalami kecelakaan serius di seri MotoGP Malaysia di Sirkuit Sepang, Kuala Lumpur. Dan tahun dimana Aku dan Kamu menjadi sepasang kekasih.

Masih ingatkah Kamu? Atau memang dengan sengaja telah lupa? Semoga saja tidak, Aku harap begitu, Aku harap demikian. Sebab dengan Kamu masih ingat hal kecil sekalipun dihari itu saja. Entah itu sekedar namaku, atau nama tempat dan juga hari, itu sudah cukup banyak alasan untuk Aku tersenyum.

Ada beberapa orang yang bilang cinta itu indah? Tapi bagiku, cinta itu indah, jika tak ada perpisahan, jika tak ada kebenciaan, jika tak ada rasa sakit hati, jika tak ada tetesan air mata, jika tak ada kehilangan, dan jika tak ada rindu yang dipendam. Cinta itu akan indah meski hanya cukup dengan ada, Aku dan Kamu.

Bersambung...

Kamis, 18 Desember 2014

AKU TAKUT

Aku takut. Bilamana para perempuan penghuni dunia ini lebih memandang seorang pria dari segi tampilan fisik daripada hati. Jika demikian, maka seorang perempuan bisu takkan menikahi seorang pria tuli dan seorang gadis buta takkan hidup bersama dengan lelaki normal!

SEKITAR BULAN NOVEMBER 2010

Apa yang Aku sebut awal ialah pada hari itu. Belum sekalipun Aku pernah menyaksikan hari yang sebegitu demikiannya. Tak seperti pagi yang selalu ada, ini lain dari biasanya. Ibarat pelangi yang muncul berwarna penuh keeemasan, ketika hujan sedang deras-derasnya sebelum berpamit untuk reda. Sedangkan seorang Ibu memakai payungnya bukan untuk terlindung dari hujan, melainkan untuk Anaknya agar tak basah sama sekali.
Demikian itulah Kamu. Kamu yang begitu sempurna, ditengah-tengah ketidakmungkinanku yang ingin menjadi mungkin. Kamu yang begitu nyata, didalam keterbatasan diriku yang memiliki banyak batas. Kamu yang begitu larut, selarut kadar oksigen dalam segelas air putih.
Apakah ini lebih dari berlebihan? Atau melebih-lebihkan? Atau apa saja yang lebih pantas dinamakan? Namun, Aku rasa ini hanyalah sebatas kebiasaan. Iya benar, kebiasaanku yang tak biasa untuk tidak menyanjungmu. Sebagaimana kebiasaan suku pedalaman yang selalu memakai baju adat disetiap harinya. Sebagaimana para Abdi Dalam yang selalu bertutur kata lembut didalam lingkup Keraton Jogja. Sebagaimana Aku yang terus melebihkanmu, tanpa mengenal jarak, ruang maupun waktu.
Sekali lagi ingatanku mencoba untuk mengingat-ingat. Untuk kali pertama Kita dipertemukan dengan cara Tuhan, bukan dengan kesengajaan, bukan melalui pesan pendek, bukan juga melalui surat cinta atau media social apapun. Meskipun hanya sebatas saling mencuri pandang tanpa saling bertegur sapa, itu sudah cukup segalanya bagiku. Ingin rasanya Aku hentikan waktu ketika itu, meski hanya beberapa menit saja. Apalah daya, Tuhan tidak memberiku kesempatan. Berawal dari lima detik itulah, senyummu menyirami ragaku yang telah lama tandus dan mengering.
            Sebelumnya tidak Aku percaya jika ada cinta, jatuh pada pandangan pertama. Apalagi hanya dalam lima detik saja, namun tampaknya Aku harus tega menelan ludahku sendiri. Benar memang, menelan ludahku sendiri. Pada pandangan pertamamu, Aku jatuh hati sejatuh-jatuhnya. Dimatamu seolah ada hutan lebat dan inginku tersesat didalamnya dan tak ingin mengerti jalan kembali pulang. Diwajahmu seakan terdapat danau air tawar, dimana meski Aku tenggelam, Aku takkan mati dan tetap hidup.
Itulah sebatas pertemuan singkat, sebelum ada kata saling mengenal, sebelum ada kata saling mengerti, sebelum saling menjadi sepasang dan sebelum saling berbagi ingatan satu sama lain. Itulah awal dimana Aku dan Kamu, dipertemukan oleh rencana Tuhan.

CINTA MEMBUAT APAPUN MENJADI MUNGKIN


Aku tak peduli meski Julia Perez mengajak Aku dinner, atau Sandra Dewi mengajakku joging dipagi hari. Aku tetap menempatkan Kamu diurutan pertama dalam hatiku.
Aku akan melindungi cintamu, hingga ada Busway di planet mars dan ada banyak penjual sate madura di planet venus.

Aku akan bertahan dan setia, sampai tom and jerry menikah lalu punya banyak anak dan doraemon menjadi bintang tamu diacara pernikahannya.

Walaupun Burung kenari betina berambut pirang, memakai hotpants dan softlens berwarna biru muda. Tetap saja, Kamu yang terindah dikedua bola mataku ini.

Biarlah Taylor Swift tampil di YKS menggantikan Soimah atau Lady Gaga menjadi komentator Indonesian Idol. Tetap saja Aku ingin bersamamu dan mendengar suaramu bila malam tiba.

Sekalipun Ariel Noah pakai babydoll warna pink atau Adipati Dolken berbikini bottom. Tetap saja, Kamu yang paling menarik dalam ingatanku, itu saja.

Aku akan terus memikirkan Kamu hingga harga tempe lebih mahal daripada stick daging dan Oky Lukman lebih sexy daripada Aura Kasih.

Aku akan selalu mendekapmu sampai anak muda lebih suka minum jamu daripada minum milk shake dan lebih suka makan nasi jagung daripada hamburger atau pizza hot.

Hati ini akan selalu menjaga namamu hingga Cristiano Ronaldo beralih menjadi penari balet dan Valentino Rossi menjadi pemain basket.

Biarpun Nabila Jkt48 selalu mengucapkan selamat tidur dan Kadek Devi tak pernah lupa bilang selamat makan. Tetap saja, ucapan dan perhatian dari Kamulah yang selalu Aku tunggu.

Tak peduli meski berat badan Kamu nanti sama dengan Ivan Gunawan atau wajah Kamu mulai keriput seperti Meriam Belina. Tetap saja, Kamu yang teristimewa dihati ini.

DARI HATI TENTANG HATI


Aku terlanjur jatuh hati kepada hati yang terlanjur dijatuhi banyak hati. Tidak hanya hati ini yang ingin tinggal dihatinya, namun juga ada beberapa hati lain yang ingin bersama hatinya juga. Ingin rasanya hati ini menjadi satu dihatinya, akan tetapi dihatinya tidak hanya ada satu hati ini. Hati ini melayang kepada seluruh hatinya yang terbang, hati ini menghilang meskipun hatinya tetap.
Hati ini adalah Aku dan hatinya adalah Kamu. Aku tidak menuntut Kamu untuk menjadi Aku dan Aku menjadi Kamu. Aku hanya ingin Kamu mengerti Aku dan Aku mengerti Kamu. Itu saja, cukup.

Rabu, 17 Desember 2014

PUNGGUNGKU

Bersandarlah pada punggungku, sebagaimana seorang anak kecil berteduh dibawah daun pisang ketika hujan sedang deras-derasnya!

SULIT DIMENGERTI

Butuh waktu yang tidak sebentar untuk merasakan lebih baik. Bukan disebabkan ketidaktangguhanku tanpamu, melainkan sosokmu yang terlalu terkenang diingatanku. Bagaikan rahim dalam kandungan perut Ibunya, lalu tumbuh menjadi sesosok bayi mungil yang begitu dicintai kedua orangtuanya. Begitulah Kamu disegala sisi kepalaku. Apa bedanya seorang pengemis dan peminta? Apa kesamaan antara seperti dan misalnya? Bagiku Kamu ibarat perpaduan ilmu fisika dan bahasa asing, sulit dimengerti namun mencerdaskan!

Karya : Djani Abimanyu.

CATATAN KECIL

Cinta ialah cara. Bagaimana pun caranya, segalanya akan dibilang baik. Sebaik-baik Tuhan melahirkan sesosok bayi mungil yang tanpa dosa.

Aku mengenalnya dengan cara baik. Sebegitu baiknya, hingga Aku tak tahu bagaimana caranya agar Aku bisa benar-benar baik meski tanpanya. 

Apakah segala sesuatu yang baik harus demikian? Harus ada air mata yang menderai. Kepada hujan, air mata ini ingin menetes. Agar tak seorang pun mengerti, mana air mata dan mana air hujan. 

Apakah segala sesuatu yang baik harus seperti ini? Harus ada kepala yang tak lelah mengingat. Aku masih ingat betul, hal apa sajakah yang Ia benci. Aku paham, bahwa Ia benci dengan Aku yang tanpa kabar. Apakah sekarang Ia masih benci akan hal itu? 

Hampir setahun lebih lamanya, Aku tanpa kabarnya, Ia tanpa kabarku, Kita saling tak berbagi kabar satu sama lain. Agaknya Kita mirip sepasang gedung yang saling berhadapan, yang tak mengerti bagaimana caranya memulai sebuah percakapan. Sebelum pada akhirnya, salah satu atau keduanya akan runtuh ditelan oleh waktu. 

Waktu yang dikenal oleh banyak orang dengan istilah takdir. Seperti Kita yang tak pernah mengerti, akan kemanakah takdir membawa Kita dikemudian hari, esok dan selamanya! 

Karya : Djani Abimanyu.