Ada satu rahasia tentangnya, yang sampai hari ini belum Ia ketahui. Bagaikan seekor Iguana yang bersembunyi diantara hijaunya daun mangga, agar tidak terlihat oleh mata anak kecil yang bersiap memukulnya dengan ketapel.
Ini rahasia tentangmu, yang menjadi penyebab kenapa akhirnya Kamu marah dan membenciku dengan sangat.
Sore itu, Aku datang ke rumahmu dengan tiba-tiba tanpa memberitahumu terlebih dahulu. Aku tidak datang sendiri, bersama Kakak pertamaku, Aku berhasil membuatmu kaget. Ini ialah untuk pertama kalinya Aku berkunjung, mungkin juga yang terakhir kalinya pula. Dari matamu, seolah ada simbol-simbol yang sulit untuk diterjemahkan, antara rasa senang dan takut bercampur aduk.
Aku paham betul dengan apa yang ada di seisi kepalamu, meski cukup dengan memandangmu sekilas. Aku bukan paranormal, bukan dukun, bukan peramal, atau apapun namanya. Mungkin karena Kita terlalu sedemikian dekatnya, hingga lewat bahasa tubuh saja, Aku mengerti.
Sebagai yang pertama kalinya, seharusnya Aku merasa asing dengan keadaan rumahmu. Tapi entah kenapa tidak demikian, begitu sangat nyaman Aku dibuatnya. Seolah-olah telah berkali-kali Aku berada di tempat itu. Kursi sofa berwarna sedikit gelap, dinding-dinding yang dihiasi dengan sedikit kerutan serta beberapa kaca jendela itu menyapaku dengan santun.
Tibalah saatnya Aku berjabat tangan dengan seorang perempuan paruh baya, yang pastinya itu ialah Ibumu. Pertama kali Aku melihatnya, Aku seolah melihatmu pada duapuluh tahun kemudian. Kamu begitu mirip dengannya, lebih tepatnya ialah sama. Sama-sama sederhana, sama-sama natural dan sama-sama wanita yang keibuan. Dengan memakai jilbab yang tanpa kesiapan, baju yang seadanya, dibalut tutur sapa yang lembut membuatku kagum, sekagum seorang anak kepada kedua orangtuanya. Jika Aku harus menghitung dengan jari kanan, entah sudah berapa senyum yang keluar dari Ibumu, mengagumkan. Tidaklah salah jika Beliau memiliki putri yang seluar biasa Kamu.
Bersambung...
Mantapp
BalasHapus